Kamis, 27 Mei 2010

PENGEMBANGAN MATERI UNTUK KETERAMPILAN MENYIMAK BAHASA ARAB DI SELF ACCES CENTER (SAC)

PENGEMBANGAN MATERI
UNTUK KETERAMPILAN MENYIMAK BAHASA ARAB
DI SELF ACCES CENTER (SAC)

A. LATAR BELAKANG
Keterampilan menyimak merupakan bagian penting komunikasi, dan merupakan dasar pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Esensi kemampuan interaksi adalah kemampuan memahami apa yang dikatakan orang lain. Waktu yang diperkirakan dalam kegiatan komunikasi manusia dewasa adalah 45 % digunakan untuk menyimak, 30 % untuk berbicara, 16 % untuk membaca, dan 9 % untuk menulis (Rivers & Temperley, 1978:62).
Keterampilan menyimak bagi pembelajar bahasa asing merupakan keterampilan yang sangat penting, karena keterampilan ini dibutuhkan untuk menguasai materi pelajaran, dan diperlukan untuk menyimak perkuliahan yang disampaikan dengan bahasa yang bersangkutan (Tresnadewi, 1994:28). Pembelajar tidak hanya dituntut memahami apa yang dikatakan, tetapi juga menyeleksi bagian informasi yang penting dan relevan untuk disusun secara cepat dalam bentuk lisan maupun tulisan dan sebagai catatan yang bisa dipahami di masa mendatang.
Pentingnya keterampilan menyimak ini juga ditegaskan oleh Cahyono (1997:14) bahwa keterampilan menyimak dapat membantu pembelajar berpartisipasi dengan baik dalam komunikasi lisan, karena komunikasi tidak bisa berhasil jika pesan yang disampaikan tidak bisa dipahami. Anderson dan Lynch (1988:16) menyebutkan bahwa keberhasilan keterampilan berbicara tergantung pada keberhasilan keterampilan menyimak.
Mengingat pentingnya keterampilan menyimak sebagaiman dipaparkan diatas, maka dirasa sangat perlu untuk menyusun materi untuk keterampilan menyimak, karena materi merupakan salah satu unsur yang penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, ia merupakan sarana yang mutlak diperlukan dalam proses pembelajaran. Materi memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai (1) sumber dan sarana pembelajaran, dan (2) pelancar belajar. Greene dan Petty (1971) mengemukakan enam fungsi materi atau buku teks yaitu (1) mencerminkan suatu sudut pandang tertentu mengenai pembelajaran dan mendemonstrasikannya dalam bahan pembelajaran yang disajikan, (2) menyajikan sumber pokok bahasan yang lengkap, mudah dipahami, dan bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan minat pembelajar , (3) menyajikan sumber belajar dan pembelajaran yang tersusun secara logis dan sistematis, (4) menyajikan strategi dan sarana pembelajaran yang dapat memotivasi pembelajar , (5) menyajikan fisasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan sebagai penunjang bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis, dan (6) menyajikan bahan/sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.
Ibrahim, dkk.. (1983) mengemukakan beberapa karakteristik materi atau buku teks yang terkait dengan isi, tatanan, dan fungsi. Dari segi isi, materi menampilkan bahan pelajaran untuk mata bidang studi tertentu. Dari segi tatanan, bahan yang terdapat dalam materi merupakan bahan yang dipilih berdasarkan pertimbangan beberapa faktor, antara lain (1) tujuan pembelajaran , (2) kurikulum dan struktur program pendidikan, (3) tingkat perkembangan jiwa anak didik yang akan memakainya, (4) kondisi dan fasilitas sekolah, (5) Kondisi pengajar atau guru. Adapun dari segi fungsi, penyusunan materi harus diarahkan untuk mengemban fungsi sebagai sumber dan sarana pembelajaran dan sebagai pelancar dan pemermudah kegiatan belajar.
Materi untuk keterampilan menyimak di SAC ini merupakan media belajar atau sumber belajar bagi mahasiswa pengguna SAC. Hal itu mengandung arti bahwa dalam materi perlu dikembangkan tugas-tugas dan latihan yang akan digunakan mahasiswa pengguna SAC dalam proses belajar menyimak. Kock dan Ott dalam Darnaningrum (1993) mendefinisikan latihan sebagai sesuatu yang diberikan kepada pembelajar yang sifatnya memotivasi, menstimulasi, membangkitkan spontanitas, serta memperkuat materi pelajaran yang telah dipelajari.
Pengembangan materi keterampilan menyimak di SAC ini diharapkan dapat menambah sarana yang berupa materi latihan, agar para pengguna SAC sudah siap untuk mengikuti matakuliah Istima’ I dan matakuliah Istima’ II yang disajikan pada semester ke III dan IV, dan bagi pengguna SAC yang sedang menempuh mata kuliah menyimak diharapkan materi menyimak di SAC ini dapat membantu pelatihan menyimak yang waktunya sangat terbatas yaitu hanya dua kali pertemuan dalam satu minggu.
Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar mata kuliah Istima’ I dan II, mahasiswa masih banyak mengalami kesulitan dalam menyimak. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian (1) Kusumobroto (1995) dengan judul Kemampuan mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab FPBS IKIP MALANG yang telah menempuh matakuliah Istima’II dalam menyimak berita berbahasa Arab di radio, yang menghasilkan kesimpulan bahwa tingkat kemampuan mahasiswa dalam mengingat fakta dan memahami kosakata tergolong rendah, dan tingkat kemampuan pengguna SAC dalam membuat kesimpulan dan menyimak berita secara umum sangat rendah, yaitu: 6,67%.
(2) Nurhidayati (2003) dengan judul Jenis dan sebab kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam menyimak teks bahasa Arab, yang menghasilkan kesimpulan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam mengingat detil dan urutan dari teks yang disimak. Adapun sebab kesulitan dari aspek linguistik adalah karena keterbatasan kosakata, sedang sebab kesulitan dari aspek nonlinguistik adalah karena faktor motivasi ekstrinsik, yaitu kurangnya motivasi mahasiswa dalam mengikuti mata kuliah menyimak yang disebabkan faktor metode mengajar, kurangnya variasi materi, dan kurangnya pemanfaatan media secara optimal.
Atas dasar hal tersebut, maka dirasa perlu untuk mengembangkan materi keterampilan menyimak untuk SAC . Pengembangan materi ini merupakan tuntutan yang harus segera terpenuhi agar diperoleh kemahiran dalam menyimak seoptimal mungkin.

B. Rumusan Masalah
Masalah umum dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pengembangan materi keterampilan menyimak bahasa Arab untuk SAC?
Masalah umum tersebut dijabarkan menjadi masalah khusus berikut.
1. Bagaimana model teoritis pengembangan materi keterampilan menyimak bahasa Arab untuk SAC?
2. Bagaimana pengembangan materi keterampilan menyimak bahasa Arab untuk SAC yang sesuai dengan teori pembelajaran menyimak?.


C. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah: Untuk mengembangkan materi keterampilan menyimak bahasa Arab di SAC.
Tujuan umum tersebut dijabarkan menjadi Tujuan khusus berikut.
1. Untuk mengkaji model teoritis pengembangan materi keterampilan menyimak bahasa Arab untuk SAC.
2. Untuk mengembangkan materi keterampilan menyimak bahasa Arab untuk SAC yang sesuai dengan teori pembelajaran menyimak.

D. Manfaat Penelitian
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah khazanah pengetahuan mengenai berbagai pengembangan materi keterampilan menyimak, yang disusun sesuai dengan teori pembelajaran menyimak yang meliputi berbagai variasi materi pembelajaran.
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi para pengguna SAC, karena penelitian ini menghasilkan materi yang sudah dilengkapi dengan tingkatan atau level menyimak yang akan dipelajari, tujuan menyimak, petunjuk penggunaannya, lembar kerja yang berisi tugas dan latihan, serta kunci jawaban yang akan membantu proses pembelajaran menyimak.

E. Definisi Operasional
Berikut ini dikemukakan definisi operasional untuk istilah berikut.
1 Pengembangan materi yaitu penyusunan materi yang berupa materi pembelajaran keterampilan menyimak yang dilengkapi dengan tingkatan atau level menyimak yang akan dipelajari, tujuan menyimak, petunjuk penggunaannya, lembar kerja yang berisi tugas dan latihan, serta kunci jawaban .
2 Keterampilan menyimak yaitu kemahiran dalam menyimak wacana berbahasa Arab.
3. Self Acces Center atau SAC yaitu tempat mahasiswa berlatih untuk belajar mandiri yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan pembelajaran bahasa Arab dan dilengkapi berbagai sarana, yang meliputi buku, kamus, tape recorder, televisi, komputer, dan internet.
F. KAJIAN PUSTAKA

1. Hakikat Menyimak
Hakikat menyimak yang dibahas meliputi pengertian keterampilan menyimak, proses menyimak, tingkatan menyimak, tujuan menyimak, dan jenis-jenis menyimak. Secara ringkas hal-hal tersebut diuraikan berikut ini.
a. Pengertian Keterampilan Menyimak
Clark & Clark dan Richards (dalam Rubin & Mendelson,1995:151) menyebutkan bahwa menyimak merupakan pemrosesan informasi yang didapat oleh penyimak melalui pandangan dan pendengaran yang mencakup perintah untuk menyatakan apa yang akan dituju dan diekspresikan oleh pembicara. Definisi tersebut mengungkapkan bahwa pada saat pemrosesan informasi penyimak tidak pasif, tetapi aktif untuk menyerap informasi. Sumber informasi yang ada juga bervariasi, tidak hanya bersumber dari kata kata yang diucapkan pembicara saja, tetapi juga meliputi tekanan suara dan kecenderungan kata-kata tertentu. Kalimat sama yang diucapkan oleh penutur yang berbeda akan berbeda maknanya, sesuai dengan konteks pembicaraan. Definisi tersebut juga mengandung arti bahwa komunikasi itu komplek, dan penentuan apa yang dituju oleh penutur bukan merupakan proses mekanis. Dengan demikian menyimak merupakan proses dinamis yang menggunakan informasi dari penutur, penyimak, setting, dan interaksi untuk membentuk makna.
Menyimak merupakan kegiatan yang komplek yang mencakup komponen-komponen persepsi dan pengetahuan linguistik untuk membantu memahami wacana yang disajikan (Zhiqian, 1989:33). Sedang Tarigan (1985:19) menyebutkan bahwa menyimak merupakan proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian dan pemahaman untuk memperoleh informasi yang disampaikan secara lisan dan dapat memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan tersebut. Dalam menyimak terdapat proses mental dalam berbagai tingkatan, mulai dari pengidentifikasian bunyi, proses pemahaman dan penafsiran, sampai pada proses penyimpanan hasil pemahaman dan penafsiran bunyi (Ashin, 1981:4). Menyimak adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang dibicarakan orang lain (Fan Yagang, 1993:16). Hal ini mencakup pemahaman aksen pembicara, ejaan, tata bahasa, dan kosa kata yang digunakan, serta pemahaman makna. Seorang penyimak harus dapat memahami empat aspek tersebut secara serentak.
Willis (1981:134) menyebutkan beberapa kegiatan yang harus dilakukan seseorang dalam menyimak, yaitu: (1) Memprediksi apa yang akan dikatakan seseorang, (2) memperkirakan kata-kata atau frasa yang tidak dikenal tanpa rasa panik, (3) menggunakan pengetahuannya untuk membantu pemahaman, (4) mengidentifikasi pokok bahasan yang relevan dan menyeleksi informasi yang tidak relevan, (5) menguatkan poin-poin yang relevan melalui catatan atau simpulan, (6) mengenali penanda-penanda wacana, misalnya: baik, oh, sesuatu yang lain adalah, sekarang, dan lain lain, (7) memgenali alat-alt kohesi, misalnya: sebagaimana, yang mana tercakup dalam kata-berikut, kata ganti, reference, dan lain lain, (8) memahami contoh-contoh intonasi yang berbeda dan pemakaian tekanan yang mendukung makna dan setting sosial budaya, dan (9) memahami maksud informasi, sikap dan perhatian pembicara.
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa menyimak merupakan proses aktif, yang mengharuskan penyimak secara aktif mengkonstruksi pesan yang disampaikan pembicara, melalui pemahaman aksen, sikap pembicara, ejaan, tata bahasa, kosa kata, frasa, penanda-penanda wacana, dan alat-alat kohesi.

b. Proses Menyimak
Menyimak merupakan proses yang lebih komplek dari hanya sekedar mendengarkan. Mendengar merupakan satu komponen dari proses menyimak, sedang komponen penting lainnya adalah berpikir dan memberi makna apa yang didengarnya (Tompkins & Hoskissons, 1991:108).
Clark & Clark (1977:111-112) menegaskan bahwa proses menyimak meliputi tahap-tahap berikut: (1) penyerapan fonologi, (2) representasi fonologi, (3) identifikasi isi/fungsi, (4) representasi proposisi secara hirarkis, dan (5) penyimpanan proposisi. Sedang Klatzy (dalam Cahyono, 1997: 15) mengajukan model lain, bahwa proses menyimak terdiri dari : (1) mencatat informasi, (2) mengenal contoh, (3) mengorganisasikan informasi, (4) latihan, dan (5) penyimpanan informasi.
Ada tiga tahap dalam proses menyimak, yaitu proses menerima, proses pemusatan perhatian, dan proses pembentukan makna melalui proses asimilasi dan akomodasi. Pada tahap pertama (menerima) penyimak menerima stimulus lisan dan visual yang dihadirkan oleh pembicara. Langkah kedua (pemusatan perhatian) penyimak memfokuskan diri pada stimulus, karena banyak sekali stimulus yang ada, maka penyimak memfokuskan pada informasi yang paling penting dalam pesan yang disimak. Pada tahap ketiga (pemahaman makna), penyimak membentuk makna atau memahami pesan pembicara. Penyimak membentuk makna melalui proses asimilasi dan akomodasi untuk menyesuaikan pesan dengan kognitif mereka atau untuk menciptakan struktur baru jika diperlukan.
Richards (1988:63) menyatakan bahwa ada dua proses menyimak yang sering dipakai, yaitu proses menyimak bottom up dan proses menyimak top down. Proses menyimak bottom up yaitu proses menyimak yang mengacu paadaa penggunaan data yang masuk sebagai sumber informasi tentang suatu pesan yang dimulai dari menganalisa pesan yang diterima berdasarkan organisasi bunyi, kaata, dan kalimat sampai paada proses penemuaan makna (proses decoding atau penafsiran pesan). Sedang proses menyimak top down adalah proses yang menggunakan pengetahuan latar dalam memahami maksud suaatu pesan baik berupa topik suatu wacana, situasi daan kontekstual atau pengetahuan yang telah menjadi memori berupa skema yaitu sususnan suatu kejadian tentang suatu topik.
Rivers dan Temperley (dalam Nicholas, 1988:19) menyebutkan bahwa proses menyimak melalui tahap-tahap berikut:
1. Pada saat menyimak suara, reaksi pertama adalah memastikan bagaimana suara itu disusun apakah sistematik atau tidak.
2. Tahap berikutnya menetapkan jenis struktur suara tersebut dalam bahasa yang dipergunakannya
3. Tahap terakhir menyeleksi pesan-pesan yang penting, untuk disimpan pada memori yang nantinya akan dipergunakan.
Proses tersebut pada tahap permulaan merupakan kegiatan yang komplek yang membutuhkan beberapa faktor untuk menerapkannya, antara lain: pemahaman fonologi atau sistem suara bahasa yang disimak, pemahaman terhadap tema pembicaraan, tujuan pembicaraan, sikap dan tekanan pembicaraan, ekspresi wajah, isyarat, tekanan/nada , yang semua ini dapat membantu penyimak memahami pesan yang disimaknya. Dengan demikian, proses menyimak adalah proses menerima informasi, berpikir, dan memusatkan perhatiaan untuk mendapatkan pemahaman makna atau pesan pembicara.

c. Tingkatan Menyimak
Farris (1993:158) membagi menyimak menjadi empat tingkat, yaitu: (1) tingkat marginal, (2) tingkat apresiatif, (3) tingkat atentife, dan (4) tingkat kritis dan analitis. Menyimak marginal adalah menyimak suara pada latar/suasana gaduh. Misalnya, menyimak suara seseorang pada situasi gaduh di jalan raya. Guru menggunakan menyimak marginal untuk melatih pembelajar jika pada suatu ketika kelas mendapat gangguan suara gaduh dari kelas lain misalnya. Karena beberapa murid ada yang hanya bisa belajar pada situasi yang tenang.
Menyimak apresiatif adalah menyimak untuk mendapat kesenangan, misalnya mendengarkan lagu, musik, drama, bacaan puisi, dan sebagainya. Untuk melatih jenis menyimak ini guru bisa memutar kaset musik misalnya, sehingga anak bisa belajar dalam melakukan apresiasi terhadap berbagai ritme, lirik, aliran dan jenis musik. Selain itu pembelajar juga dilatih agar bisa menyaksikan penggunaan tekanan, jeda dan irama, nada, mood, gaya penutur, dsb. dengan menyimak penutur yang efektif.
Menyimak atentif yaitu menyimak untuk memahami dan menginterpretasikan pesan penutur. Jenis menyimak ini memerlukan konsentrasi dan interaksi untuk memastikan pemahaman lisan. Penyimak harus mengkategorikan, menyelidiki, menghubungkan, mempertanyakan, dan mengorganisasikan informasi agar bisa menerapkannya pada kesempatan lain. Jenis menyimak ini misalnya menyimak petunjuk-petunjuk lisan melalui berbagai sarana seperti menyimak berita televisi, menyimak nomor telephon dari jarak jauh, menyimak perkuliahan, dsb. Untuk menerima pesan lisan tertentu diperlukan strategi tertentu misalnya penyimak hendaknya mengetahui tujuan penting yang harus didengarkannya. Para pembelajar akan menggunakan taktik tertentu untuk mencatat. Mereka menggunakan kategori-kategori tertentu untuk ditulis sebagai judul atau topik di atas catatan.
Menyimak kritis atau analitis adalah menyimak untuk mengevaluasi dan menetapkan apa yang disimaknya. Jenis menyimak ini mengharuskan penyimak mengevaluasi dan menentukan input lisan, sehingga dia menjadi pemroses yang reflektif terhadap suatu pesan. Pemrosesan reflektif ini memerlukan pengembangan inferensi yang luas, pembandingan sebab dan akibat, evaluasi dan pertimbangan pesan penutur. Menyimak kritis ini sebenarnya merupakan dasar menyimak yang sering dilakukan anak, misalnya pada saat anak harus mengambil keputusan penting misalnya pada saat membeli mainan baru, memilih film baru yang akan ditonton, dsb. Dengan demikian, dilihat dari tingkat kesulitannya, ada empat jenis menyimak, yaitu: menyimak marginal, menyimak apresiatif, menyimak atentif, dan menyimak kritis.

d. Tujuan Menyimak
Walvin & Coakley (dalam Tompkin & Hoskisson, 1991:109) menyatakan bahwa terdapat 5 tujuan dalam menyimak, yaitu: (1) menyimak untuk membedakan, (2) menyimak untuk memahami, (3) menyimak untuk mengkritik, (4) menyimak untuk apresiasi, dan (5) menyimak untuk terapi. Pada menyimak dengan tujuan untuk membedakan seseorang menyimak untuk membedakan suara-suara dan untuk mengembangkan sensitivitas komunikasi non verbal. Mengajar menyimak dengan tujuan ini berbeda-beda untuk setiap tingkat kelas. Di TK atau kelas I sekolah dasar misalnya, pembelajar diajak menyimak suara-suara binatang melalui tape recorder dan suara-suara yang biasanya ada di dapur. Anak-anak biasanya baru bisa melakukan menyimak jenis ini pada usia 5 atau 6 tahun.
Pada menyimak dengan tujuan untuk memahami, seseorang menyimak untuk memahami sebuah pesan, dan jenis menyimak inilah yang sering diperlukan pada aktifitas pembelajaran . Pembelajar harus menentukan tujuan penutur dan kemudian mengkordinasi informasi yang terucapkan kemudian mengingatnya. Pada tingkat sekolah dasar biasanya pembelajaran menyimak komprehensif ini hanya sedikit diberikan, karena guru berpendapat bahwa pembelajar baru mempunyai pengetahuan sederhana untuk menyimak. Model yang dipakai biasanya berupa tugas mencatat sebagai salah satu strategi menyimak komprehensif.
Menyimak dengan tujuan untuk mengkritik atau mengevaluasi adalah menyimak yang mengharuskan penyimak pertama kali memahami, kemudian mengevaluasi pesan yang diterima. Menyimak dengan tujuan ini merupakan perluasan dari menyimak komprehensif, karena disamping memahami pesan, penyimak harus menyeleksi pesan, misalnya untuk mendeteksi bahasa propaganda dan bahasa persuasi. Seperti, bahasa debat, iklan, pidato politik dan argumen-argumen lain.
Menyimak untuk apresiasi adalah menyimak untuk memperoleh kesenangan, seperti menyimak cerita, pembacaan puisi. Bentuk pembelajaran menyimak yang penting di tingkat SD adalah dengan membaca keras untuk disimak pembelajar . Dengan cara ini guru bisa mendorong dan meciptakan situasi yang menyenangkan dalam pelajaran menyimak. Selain itu jenis menyimak ini bisa berupa menyimak pembicaraan teman sekelas dan tukar menukar ide. Pembelajar perlu belajar bagaiman berpartisipasi dalam pembicaraan, diskusi, dan kegiatan percakapan yang lain.
Menyimak untuk terapi adalah menyimak yang digunakan pada saat seseorang masalah-masalah yang diungkapkan pembicara. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memerlukan penyimak yang simpatik untuk menyimak permasalahan-permasalahan yang dialaminya.
Dengan demikian ada 5 tujuan menyimak, yaitu (1) menyimak untuk membedakan, yang digunakan untuk membedakan hal-hal yang disimak, sesuai dengan tujuan penyimak, (2) menyimak untuk memahami, yaitu menyimak dengan tujuan memahami pesan pembicara baik secara detil maupun global, (3) menyimak untuk mengkritik, yaitu menyimak yang tidak hanya cukup memahami apa yang disimak, tetapi juga mengevaluasi dan memberikan kritik atau penilaian terhadap pesan yang disimak, (4) menyimak apresiasi, yaitu menyimak untuk memperoleh kesenangan, dan (5) menyimak untuk terapi, yaitu menyimak untuk menghibur pembicara dengan menyimak permasalahan-permasalahan yang diungkapkan.

e. Jenis-Jenis Menyimak
Dari 5 tujuan menyimak yang telah dijelaskan, ada tiga jenis menyimak yang sering digunakan dan diajarkan di sekolah-sekolah , yaitu menyimak komprehensif, menyimak kritis, dan menyimak apresiatif. Ketiga jenis menyimak ini memerlukan strategi-strategi khusus yang akan digunakan pada saat menyimak. Sebagai contoh strategi membayangkan (imaji), organisasi, dan pengajuan pertanyaan-pertanyaan dapat membantu para pembelajar memperoleh informasi penting dari pesan yang disimaknya dan dapat memahaminya dengan lebih baik.
Tidak semua pembelajar memahami berbagai strategi untuk tujuan menyimak yang berbeda. Pada umumnya mereka hanya memiliki satu pengertian bahwa menyimak adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan sebaik mungkin, dan harus mengingat semua pesan yang disampaikan. Menyimak dengan strategi ini tidak akan berhasil karena: (1) mengingat semua pesan dalam waktu singkat merupakan hal yang tak mungkin bisa dilakukan, dan (2) beberapa poin dari pesan yang disampaikan bukan merupakan hal yang perlu diingat. Adapun tiga jenis menyimak yang akan dibahas yaitu: (1) Menyimak komprehensif, (2) menyimak appresiatif, dan (3) menyimak kritis.
Menyimak komprehensif adalah menyimak untuk memahami pesan (Tompkins & Hoskisson, 1991:112). Beberapa faktor yang menentukan pembelajar sebagai penyimak dapat memahami pesan adalah: (1) sebelum menyimak, berupa latar belakang pengetahuan yang berkaitan dengan isi pesan yang disimak. Para penyimak harus mampu menghubungkan apa yang disimak dengan pengetahuan yang telah diketahui dan pembicara atau guru harus membantu untuk menghubungkannya.(2) selama proses menyimak, yaitu berupa penggunaan berbagai strategi dan teknik untuk membantu ingatan mereka dalam mengorganisasikan pesan yang diterima. (3) pada saat selesai proses menyimak, yaitu menerapkan apa yang mereka simak sehingga hal ini merupakan dorongan atau penyebab untuk mengingat informasi/pesan yang diterima.
Enam strategi yang bisa digunakan dalam menyimak komprehensif adalah: menciptakan imajinasi, mengkategorikan, memberikan pertanyaan-pertanyaan, mengorganisasi, mencatat, dan mengarahkan perhatian. Tujuan dari masing-masing strategi ini adalah untuk membantu pembelajar mengorganisasi dan mengingat apa yang telah disimak (Tompkins & Hoskisson, 1991:112).
Untuk membantu mengingat pesan yang disimak, pembelajar dapat membayangkan suatu gambaran tertentu. Strategi imajinasi ini biasanya digunakan untuk mengiringi pesan yang memiliki imajinasi visual, detail, atau kata-kata deskriptif, dan pada saat pembelajar menyimak untuk memperoleh kesenangan. Cerita dan gambar dapat membantu pembelajar untuk menciptakan imajinasi dan pembelajar dapat menggambar atau menulis gambar yang ada di benak mereka.
Pembelajar biasa mengklasifikasi pesan yang disimak terutama yang berupa informasi yang beragam, perbandingan, atau pertentangan. Guru bisa membantu pembelajar mengklasifikasi apa yang disimak dengan pembuatan kolom di papan tulis, atau pembelajar membuatnya sendiri di buku mereka.
Dua tipe pertanyaan yang dapat membantu pembelajar memahami pesan yang disimak adalah: (1) pertanyaan yang ditujukan pada pembicara, yang bertujuan untuk memperjelas informasi, dan (2) pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri mereka sendiri yang bertujuan untuk memonitor penyimakan dan pemahaman mereka. Contoh pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri sendiri misalnya: (a) mengapa saya menyimak pesan/wacana ini?, (b) apakah saya mengerti makna ungkapan ini?, dan (c) apakah informasi ini memberikan pemahaman pada saya?.
Dalam menyusun pesan pembicara menggunakan salah satu dari berbagai bentuk pengorganisasian. Lima bentuk pengorganisasian yang umum adalah mendiskripsikan, mengurutkan, membandingkan, menentukan sebab akibat, dan menetapkan masalah dan pemecahannya. Penggunaan bentuk pengorganisasian tersebut dapat berfungsi untuk memahami dan mengingat pesan yang disimaknya dengan lebih mudah. Para pembelajar dapat menggunakan grafik organizer untuk membantu mereka memvisualisasikan pengorganisasian pesan.
Membuat catatan yaitu menulis informasi yang penting. Membuat catatan membantu pembelajar menjadi penyimak yang aktif. Kegiatan ini dilakukan karena pembelajar tidak mungkin menyimpan sejumlah informasi yang tak terbatas dalam benak mereka. Isyarat yang digunakan bisa berupa isyarat visual dan verbal untuk mengarahkan perhatian penyimak. Isyarat isyarat itu misalnya gerak tubuh, menulis atau menggaris bawahi informasi-informasi penting di papan tulis, ekspresi wajah, jeda, nada, tekanan, dan lain lain. Menyimak kritis adalah jenis menyimak yang harus mulai dikembangkan pada pembelajar sekolah dasar, karena mereka setiap hari dibanjiri informasi yang berupa persuasi, dan propaganda baik melalui televisi maupun radio. Menyimak jenis ini mengarahkan mereka agar bersikap kritis terhadap hal-hal yang disimaknya. Syafi’ie, (1999: 46) menyebutkan bahwa menyimak kritis bisa digunakan untuk melatih kepekaan terhadap hal-hal yang bias, menilai validitas informasi, dan membedakan antara fakta dan opini. Bahasa persuasi biasanya diungkapkan dengan berbagai cara yang menarik, seperti: (1) menggunakan alasan-alasan yang logis, seperti berdasar hasil penelitian, survey, (2) memnafaatkan orang-orang yang dipercaya masyarakat seperti dokter, profesor, kiyai, dsb., dan (3) menggunakan perkataan yang menyentuh emosional. Begitu juga halnya dengan bahasa yang digunakan untuk propaganda mereka mengungkapkannya dengan dukungan kata-kata yang bersifat sugestif. Dalam bahasa persuasi dan propaganda, pembicara menggunakan berbagai alat atau bahasa propaganda seperti penawaran hadiah, discount, menonjolkan kemewahan, kesederhanaan, menyebutkan kelemahan produk lain, meminjam orang terkenal untuk memakai produknya, dsb.
Menyimak apresiatif merupakan jenis menyimak yang menghasilkan rasa senang, puas, menikmati terhadap hal yang disimak, seperti mendengar musik, komedi, puisi, cerita,dsb. Dalam pelajaran bahasa menyimak apresiatif ini bisa digunakan untuk melatih pembelajar dalam mereaksi prosa/puisi, menunjukkan kesenangan terhadap persajakam dalam puisi, kepekaan imajinasi, dan kepekaan suasana (Syafi’ie, 1999: 46).
Beberapa cara yang bisa dilakukan guru untuk melaksanakan pembelajaran menyimak apresiatif ini adalah:(1) membaca keras, membaca kerasini memberikan manfaat antara lain merangsang minat pembelajar terhadap buku dan kegiatan membaca, mengenalkan kepada anak suara-suara dari bahasa tertulis dan memperluas penguasaan kosa kata serta pola kalimat, membuat anak mau menyimak dan memahami buku yang terlalu sulit untuk dibaca oleh mereka sendiri,dsb. (2) membaca secara berulang-ulang. Pengulangan dapat membantu pembelajar melakukan kontrol terhadap bagian-bagian tertentu dari buku, dan mensinpelatihanis bagian-bagian cerita ke dalam keseluruhan cerita secara lebih baik.(3) Melalui kegiatan mendongeng, teater, drama, dsb.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis menyimak ada tiga, yaitu menyimak komprehensif, menyimak kritis, dan menyimak apresiatif. Menyimak komprehensif adalah menyimak untuk memahami pesan, jenis menyimak ini merupakan jenis menyimak yang harus dikuasai penyimak untuk dapat menguasai dua jenis menyimak yang lain. Menyimak kritis adalah menyimak yang menuntut penyimak bersikap kritis terhadap hal-hal yang disimaknya, sedang menyimak apresiatif adalah menyimak untuk mendapatkan rasa senang, puas, dan menikmati apa yang disimaknya.

2. Pengembangan Materi dan Bentuk Kegiatan dalam Pembelajaran Menyimak
Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengembangan materi dan bentuk kegiatan dalam pembelajaran menyimak, yaitu: (1) materi dan prosedur penyajiannya, (2) kategori pemfokusan menyimak, dan (3) tujuan pengembangan materi. Secara ringkas tiga hal tersebut dijabarkan sebagai berikut.
a.Materi dan Prosedur Penyajiannya
Dalam pembelajaran menyimak guru harus mengembangkan materi sendiri untuk pembelajaran yang akan dilaksanakan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi khusus pembelajar yang akan belajar. Secara umum materi pembelajaran menyimak meliputi hal-hal berikut. (1) Pemanfaatan teks autentik dan teks oral yang disusun guru, (2) merupakan representasi dari teks aural pendek dengan fokus pada menyimak khusus, (3) merupakan integrasi komponen membaca yang meliputi juga kegiatan berbicara dan menulis, (4) merupakan manipulasi internal dari beberapa informasi, (5) merupakan pelaksanaan tugas menyimak khusus atau tugas-tugas secara umum, (6) dilengkapi dengan respon menulis dalam bentuk khusus, dan (7) verifikasi pemahaman melalui umpan balik dalam bentuk cek individu. Adapun prosedur penyampaian materi adalah (1) Para pembelajar mengecek paket menyimak yang berupa tape recorder atau video, kertas kerja atau beberapa gambar, kunci jawaban, dan petunjuk-petunjuk, (2) para pembelajar mencoba memainkan tape meliputi kegiatan memulai, memberhentikan, dan melanjutkan kembali, (3) para pembelajar mengecek pekerjaan mereka sendiri untuk memverifikasi pemahaman mereka, dan (4) para pembelajar berkonsultasi dengan guru monitor bila perlu.
Farris (1993:165) menyebutkan bahwa terdapat 2 prosedur yang digunakan untuk menyusun materi pembelajaran menyimak yaitu : (1) Directed Listening Activity (DLA) atau aktifitas menyimak terarah, dan (2) Directed Listening-Thinking Activity (DLTA) atau aktifitas berpikir menyimak terarah. DLA cocok digunakan pada individu, kelompok kecil atau kelas, sedangkan DLTA sesuai digunakan pada kelompok sekitar 6 sampai 8 pembelajar .
1) Directed Listening Activity (DLA)
Dalam menyimak teks yang dibacakan, pembelajar akan melaksanakan 3 tahap kegiatan, yaitu : (1) pra menyimak, (2) menyimak, dan (3) tindak lanjut. Cuningham dan Arthur, (dalam Farris, 1993:168). Pada tahap pra menyimak pembelajar diberitahu atau diajak menentukan tujuan menyimak dan memilih strategi keterampilan menyimak yang akan diterapkan.
DLA dapat digunakan untuk memusatkan perhatian pada pengembangan keterampilan tertentu, seperti menentukan ide pokok, membuat kesimpulan, memahami kosa kata melalui proses denotasi dan konotasi, mengkategorisasikan, mengurutkan, mengevaluasi,dsb. Teknik ini bermanfaat untuk membantu pembelajar yang rendah prestasinya, dan mereka yang memiliki kelambanan belajar, maupun pembelajar yang bahasa Inggrisnya merupakan bahasa kedua.
Secara umum para guru harus menggambarkan alasan atau tujuan menyimak sebelum mereka meminta pembelajar untuk menyimak. Tanpa pengetahuan dasar seperti itu pembelajar tidak dapat memilih rencana strategi yang sesuai dengan tugas menyimak. Kurangnya kesempatan untuk mengembangkan strategi menyimak yang bervariasi menjadikan pembelajar hanya mengembangkan satu strategi untuk menyimak segala pesan yang disimaknya. Padahal secara jelas beberapa taktik tertentu ada yang tidak hanya tidak efektif dan efesien bahkan ada yang bisa menyebabkan pembelajar gagal. Maka dari itu guru harus mengarahkan sebelum mengajar menyimak , jenis kegiatan menyimak apa yang akan dilaksanakan.
DLA memungkinkan guru memfokuskan pembelajar pada satu atau dua keterampilan khusus menyimak pada satu waktu, menentukan detail, identifikasi ide pokok, mengurutkan kejadian, mengidentifikasi sebab akibat, memberikan penafsiran, menyimpulkan atau mengevaluasi pembelajaran kosa kata, makna denotatif dan konotatif. Jika tujuan telah ditetapkan, penyimak maju ke tahap kedua DLA dan dengan demikian pembelajar dapat dengan lebih baik mengorganisasi dan mengklasifikasi informasi dan dapat menginferensi isi pesan yang disimaknya. Pada tahap terakhir yaitu tahap tindak lanjut, penyimak memberi reaksi terhadap pesan lisan. Kegiatan retrospeksi ini dapat merangsang berpikir kritis dan mampu mengkritik, mengevaluasi, dan mempertimbangkan pesan.
2) Directed Listening-Thinking Activity (DL-TA)
Stauffer (dalam Farris, 1993:169) menyebutkan bahwa DL-TA tergantung pada kemampuan anak untuk bersifat aktif, kritis, dan aktif menghubungkan pengetahuan yang lalu dan pengalaman-pengalamannya. Dalam proses penggunaan DL-TA guru membaca sejumlah cerita dan kemudian berhenti pada titik kritis. Pada saat itu, pembelajar membuat prediksi mengenai peristiwa yang akan terjadi berdasarkan informasi yang diperoleh melaui penyimakan maupun pengalamn dan pengetahuan pribadinya. Sebagian besar cerita berisi isyarat-isyarat yang memberikan wawasan kepada penyimak mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah para pembelajar membahas bersama prediksi-prediksinya, guru meneruskan membaca sampai mencapai titik penting lain dalam alur cerita. Pembelajar yang merasa prediksinya tadi tidak benar harus mengubahnya dengan merumuskan hipopelatihanis-hipopelatihanis baru berdasarkan informasi tambahan yang diterima.

b. Kategori Pemfokusan Menyimak
Morley (1984:24) menyebutkan ada dua tipe besar pemfokusan menyimak, yang masing-masing tipe terbagi atas dua kategori, yaitu (1) menyimak fungsional dan pembentukan kosa kata (pemahaman isi dengan penekanan pada pesan, dan pembentukan kosa kata). Tipe ini dibagi menjadi sub kategori: (a) menyimak nosional/informasional (menyimak untuk memperoleh informasi dan jawaban pertanyaan atau pemecahan masalah tentang masalah-masalah yang dipilih, (b) menyimak situasional/fungsional (menyimak ganda yaitu mendapat informasi, menjawab pertanyaan, dan memecahkan masalah sambil menganalisa aspek sosiolinguistik dan kontekstual dari teks-teks aural yang diseleksi, (2) menyimak analisis struktural (menyimak untuk menganalisa contoh-contoh suara, ejaan, dan unsur-unsur gramatikal) yang meliputi: (a) Latihan menyimak yang berorientasi pada tujuan membedakan (menganalisa tampilan tekanan, ritme, intonasi, suara vokal, suara konsonan, konsonan hambat, dan aspek gramatikal, (b) latihan menyimak suara/ejaan (menyimak dan menghubungkan bahasa lisan dan bahasa tulisan).

c. Tujuan-Tujuan Pengembangan Materi
Ada dua belas tujuan pembelajaran menyimak yang bisa digunakan sebagai garis petunjuk yang dinyatakan dengan istilah fokus pembelajaran . Masing-masing tujuan tersebut berhubungan dengan satu atau lebih dari 3 tujuan dasar pembelajaran berikut, yaitu: (1) tujuan-tujuan informasional yang berhubungan dengan komponen kognitif pengetahuan,(2) tujuan-tujuan pelatihan yang berhubungan dengan komponen penampilan,(3) tujuan-tujuan pelibatan diri pembelajar yang berhubungan dengan komponen sikap dalam pembelajaran .
Dua belas tujuan itu adalah: (1) Sasaran menyimak adalah proses aktif secara langsung dan sedikit menunda manipulasi informasi lisan yang diterima, (2) sasaran menyimak adalah bahasa (a) untuk memperoleh informasi, (b) untuk menganalisa struktur khusus, (c) nosional dan penampilan fungsional, (3) sasaran pada interaksi komunikasi internal, pembelajar menerima data bahasa eksternal (oral dan visual), menyususn kembali dan menyusun respon tulisan berupa: (a). penyusunan kembali beberapa data, (b) mengidentifikasi dan menganalisis tampilan data, (4. Sasaran tahap awal pembelajar dengan verifikasi pemahaman, (5) sasaran pada perkiraan yang memberikan harapan dan prasangka yang meraguka, (6) sasaran pada menyimak yang terseleksi, menghindari materi yang tidak relevan, dan pemahamn total, (7) sasaran pada keterlibatan diri dengan perhatian pada keberadaan diri, dan rencana belajar yang disusun sendiri, (8) sasaran tahap awal pembelajar tanpa mengancam pengalaman pengetahuan dan rendahnya tingkat kegelisahan dapat menciptakan tingkat dan volume input auditori, (9) sasaran pada integrasi bahasa auditori dan visual, (10) sasaran pada tingkat pemahaman, (11) sasaran pada pembentukan kosa kata,(12) sasaran pada contoh-contoh bahasa yang mencakup makna dari tahap awal berupa gambar atau sesuatu yang dibutuhkan.
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pengembangan materi dan bentuk kegiatan dalam pembelajaran menyimak. Pertama berkaitan dengan materi dan cara penyampaiannya, kedua pemfokusan menyimak, yang meliputi menyimak fungsional dan analisis struktural, dan ketiga tujuan pengembangan teori, yang meliputi tiga tujuan dasar, yaitu tujuan informasional yang berkaitan dengan komponen kognitif, tujuan pelatihan yang berkaitan dengan komponen pelatihan, dan tujuan pelibatan diri pembelajar yang berkaitan dengan komponen sikap.


d. Prinsip-Prinsip yang Mempengaruhi Tingkat Kesulitan Materi Menyimak
Anderson & Lynch (1988:48) menyebutkan ada empat prinsip input bahasa yang mempengaruhi tingkat kesulitan pemahaman materi menyimak, yaitu berkaitan dengan (1) cara pengorganisasian informasi/ pesan, (2) tingkat pemahaman penyimak terhadap topik, (3) keeksplisitan penyajian pesan, dan (4) bentuk input. Pengorganisasian informasi terkait dengan urutan informasi atau pesan yang disampaikan. Sebagai contoh sebuah cerita yang disajikan dengan alur flash back akan lebih sulit dipahami oleh penyimak. Adapun teks ekspository yang mempunyai judul, titik-titik pokok teks disajikan sebelum ilustrsi, dan penyimak diberi kesempatan untuk mengkaitkan pengetahuan yang dimiliki melalui aspek skemata akan membantu penyimak dalam memahami teks tersebut. Tingkat pemahaman penyimak terhadap topik yang disimak terkait dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh penyimak, baik yang berhubungan dengan kosa kata, susunan kalimat, maupun isi dari wacana yang disimak. Keeksplesitan penyajian terkait dengan isi teks yang tidak hanya menyajikan informasi yang sangat perlu saja, tetapi juga diikuti kejelasan fakta, dan penyimak dapat mengenali beraneka bentuk ekspresi yang mengacu pada karakter yang sama. Adapun mengenai bentuk input bahasa Brown & Yule (1983) mengkategorikan teks lisan atas tiga bentuk, yaitu statis, dinamis, dan abstrak.. Perbedaan dari ketiga bentuk itu terkait dengan perbedaan kekomplekan hubungan antar sesuatu barang, seseorang, kejadian, dan ide yang diungkapkan oleh pembicara.
Anderson &Lynch (1988:81-96) menyebutkan bahwa tingkat kesulitan materi menyimak juga bisa dianalisis dari tingkat kesulitan kosakata, dan kekomplekan struktur atau gramatika. Adapun tingkat kesulitan tugas dan latihan pembelajaran bisa dianalisis melalui tujuan pembelajaran, respon atau jawaban yang diharapkan, kelengkapan materi yang disajikan.

3 Pelatihan untuk mengukur Kemampuan Menyimak
Menyimak merupakan komponen berbahasa pasif melalui media oral. Sebagai komponen kemampuan berbahasa pasif bukan berarti kegiatan penyimak juga pasif. Dalam menyimak, penyimak aktif mengkonstruksi pesan yang disimak, dan ketepatan persepsi dan pemahaman terhadap pesan tergantng pada penguasaan bahasa terutama penguasaan kosa katanya.
Mengukur kemampuan menyimak sebagaimana kemampuan berbahasa yang lain harus juga memperhatikan karakteristik pembuatan pelatihan yang baik, karena tanpa memperhatikan karakteristik pelatihan yang baik pelatihan tersebut tidak akan dapat digunakan untuk menilai kemampuan menyimak dengan baik. Mengenai bentuk-bentuk pelatihan kemampuan menyimak tentunya akan berbeda dengan kemampuan berbahasa yang lain, karena kemampuan berbahasa pasif yang disampaikan melalui media oral atau lisan memiliki sifat-sifat khusus yang berbeda dengan kemampuan berbahasa yang lain, meskipun ada juga hal-hal tertentu yang serupa.
a. Bentuk-Bentuk pelatihan untuk Mengukur Kemampuan Menyimak
Untuk mengukur kemampuan menyimak, berikut dibahas bentuk-bentuk pelatihan keterampilan menyimak yang dapat digunakan. Anderson & Lynch (1988) menyebutkan 8 bentuk tugas yang diurutkan dari tingkat yang paling sulit ke tingkat yang paling mudah, yaitu (1) menyimak dan melanjutkan yang bias berbentuk rute atau bagan, (2) menyimak dan menikmati yang berbentuk cerita, (3) menyimak dan mengerjakan bisa berupa label atau gambar, (4) menyimak dan mereaksi berupa aspek sikap atau emosi, (5) menyimak dan melengkapi berupa bentuk transkripsi, (6) menyimak dan membenarkan berpa mengoreksi kesalahan yang ada, (7) menyimak dan berdiskusi berupa bentuk benar dan salah, dan (8) menyimak dan menirukan kembali apa yang disimak.
Djiwandono (1996:56-61) menyebutkan bahwa ada lima bentuk pelatihan yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menyimak yaitu: (1) Menjawab pertanyaan yang berupa frasa. Pembelajar diminta untuk menyimak frasa dan pertanyaan pertanyaan yang menyertainya, (2) menjawab pertanyaan berupa kalimat. Pembelajar diminta untuk menyimak kalimat-kalimat yang diperdengarkan dan pertanyaan-pertanyaan yang menyertainya, kemudian menjawab dengan singkat, (3) merumuskan inti wacana. Pembelajar diminta untuk menyimak wacana, kemudian merumuskan secara singkat inti masalah yang diungkapkan, (4) menjawab pertanyaan berupa wacana. Pembelajar diminta untuk menyimak wacana kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan pada akhir wacana, (5) menceritakan kembali. Pembelajar diminta menyimak wacana kemudian menceritakan kembali wacana itu dengan kalimat dan kata-kata yang tidak harus sama dengan wacana aslinya, namun dengan garis besar isi yang sama.
Weir (1990: 51) membagi bentuk pelatihan keterampilan menyimak menjadi dua, yaitu pelatihan keterampilan menyimak ekstensif dan pelatihan keterampilan menyimak intensif.
1) Pelatihan keterampilan menyimak ekstensif.
Inti dari tujuan pelatihan keterampilan menyimak adalah mengevaluasi pemahaman pembelajar . Tingkatan pemahamannya akan tergantung pada kemampuannya membedakan fonem-fonem, mengenali tekanan dan intonasi kalimat, dan meraksi apa yang disimak. Dalam melaksanakan pelatihan keterampilan menyimak proses dimulai dari evaluasi aspek suara, produksi ujaran, fonologi, menuju pada proses pemaknaan dan komunikasi.
Sebagai contoh pelatihan keterampilan menyimak ekstensif yang dikembangkan oleh Holes (dalam Weir, 1990) adalah pelatihan yang memfokuskan pada kemampuan pengguna SAC dalam membuata catatan kuliah. Pendekatan bentuk pelatihan yang digunakan didapat dari contoh-contoh tugas yang digunakan untuk menilai secara global kurangnya kemampuan sebenarnya pembelajar untuk menginterpretasikan isi wacana sesuai data yang diperoleh kompetensi linguistik mereka. Analisis validitas yang digunakan adalah validitas Concurrent dengan membandingkannya pada kesuksesan atau kegagalan akademik atau sebagai prediksi keberhasilannya di masa mendatang.
Untuk mengukur keterampilan menyimak ekstensif ini bisa digunakan bentuk pelatihan pilihan ganda, dan jawaban pendek. Adapun jenis pelatihan ini juga memiliki keterbatasan antara lain sulit menyususn tugas-tugas yang otenti dan menyerupai kehidupan nyata, sulitnya pengguna SAC untuk memfokuskan diri pada penampilan-penampilan khusus wacana, karena menyimak dikhususkan untuk mengidentifikasi makna-makna ide. Selain itu pelatihan menyimak yang bahannya diambil dari rekaman atau radio, televisi, kadang kala tingkatannya berada diatas kemampuan pembelajar.
2) Pelatihan keterampilan menyimak intensif
Untuk mengatasi kesulitan memfokuskan diri pada menyimak poin-poin khusus pada wacana yang diperdengarkan secara terus menerus pelatihan menyimak intensif bisa digunakan, yaitu dengan pemfoklusan pelatihan menyimak pada hal-hal yang lebih deskrit yang memungkinkan dapat mencakup item-item dalam jumlah yang lebih banyak. Sebagai contoh bentuk pelatihan ini adalah bentuk dikte (dictation), dan mengingat kembali pesan yang telah disimak (listening recall).
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada dua jenis pelatihan menyimak, yaitu pelatihan menyimak ekstensif dan pelatihan menyimak intensif. Pelatihan menyimak ekstensif dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman secara global terhadap teks yang disimak, sedang pelatihan menyimak intensif adalah dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman secara detil teks yang disimak.

b. Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Menyelenggarakan Pelatihan Keterampilan Menyimak
Sesuai dengan pengertian kemampuan menyimak, yaitu kemampuan memahami bahasa yang dihasilkan orang lain melalui sarana lisan, maka bahan pelatihan yang diujikan disampaikan secara lisan dan diterima pembelajar melalui sarana pendengaran. Berkaitan dengan itu Nurgiantoro (1987:212) menyebutkan ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam menyelenggarakan pelatihan keterampilan menyimak yaitu, (1) berkaitan dengan sarana/media pelaksanaan pelatihan, dan (2) berkaitan dengan materi pelatihan.
Penggunaan media rekaman untuk pelaksanaan pelatihan keterampilan menyimak mempunyai beberapa keuntungan dan kelemahan. Keuntungan menggunakan media rekaman adalah: (1) menjamin tingginya tingkat ketepercayaan pelatihan, (2) memungkinkan untuk membandingkan prestasi antara kelas yang satu dengan yang lain walaupun selang waktu cukup lama, (3) jika pelatihan memiliki tingkat kesahihan dan ketepercayaan yang memadai, dapat diperguanakan berkali-kali, (4) dalam pembelajaran bahasa asing dapat untuk menggantikan penutur asli, (5) dapat merekam situasi-situasi tertentu pemakaian bahasa untuk dibawa ke kelas, dan karenanya bersifat pragmatik, dan (6) guru dapat mengontrol pelaksanaan pelatihan dengan lebih baik, dan sebagainya. Adapun kelemahannya adalah: (1) tidak semua sekolah mempunyai fasilitas yang diperlukan, dan (2) belum tersedianya kaset rekaman yang memadai untuk keperluan pelatihan keterampilan menyimak.
Berkaitan dengan bahan atau materi pelatihan keterampilan menyimak ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu: (1) tingkat kesulitan wacana, (2) isi dan cakupan wacana, dan (3) jenis-jenis wacana. Tiga hal tersebut dijabarkan berikut ini.
1) Tingkat kesulitan wacana
Tingkat kesulitan wacana terutama ditinjau dari faktor kosa kata dan struktur yang dipergunakan. Jika kosa kata yang dipergunakan sulit, bermakna ganda dan abstrak, jarang dipergunakan, ditambah lagi struktur kalimatnya juga kompleks, wacana tersebut termasuk wacana yang tinggi tingkat kesulitannya.
Cara yang bisa digunakan untuk memperkirakan tingkat kesulitan suatu wacana yaitu berupa teknik cloze (cloze pelatihant) secara lisan. Caranya wacana dibaca oleh guru di depan kelas dua kali, dan setiap pada kata ke-n tidak dibaca. Pembelajar diminta untuk menerka dan kemudian menuliskan kata-kata yang tidak dibaca itu pada secarik kertas. Jika rata-rata nilai yang diperoleh pembelajar kurang atau 20 % maka wacana tersebut termasuk wacana yang sulit, dan jika rata-rata nilai yang diperoleh pembelajar 75 % atau diatasnya maka wacana tersebut termasuk wacana yang mudah dan wacana yang dipergunakan hendaknya yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit.
2) Isi dan Cakupan Wacana
Isi dan cakupan wacana hendaknya sesuai dengan minat dan kebutuhan pembelajar , sesuai dengan bidang yang dipelajari, sehingga akan mempermudah wacana yang disimaknya. Wacana yang akan dipelatihankan hendaknya yang berisi hal-hal yang bersifat netral sehingga sangat dimungkinkan adanya kesamaan pandangan terhadap isi masalah, dan sebaliknya hendaknya menghindari wacana yang bisa menimbulkan kontroversial yang dapat menimbulkan adanya perbedaan pendapat yang memungkinkan adanya lebih dari satu jawaban yang benar.
3) Jenis-Jenis Wacana
Wacana yang merupakan satuan bahasa terlengkap akan memuat informasi atau pesan yang lengkap pula. Kelengkapan pesan tidak tergantung pada panjangnya wacana. Wacana bisa berbentuk sebuah buku , satu bab, paragraf, atau kalimat
bahkan kata. Wacana dapat berupa dialog atau bukan dialog (narasi, deskripsi, ceramah, dan sebagainya. Hal yang harus dihindari adalah wacana yang terlalu panjang , dan yang terpenting adalah segi validitas pelatihan, yaitu pelatihan itu benar-benar mampu mengungkap kemampuan menangkap dan memahami bahasa lisan.

c. Tingkatan Pelatihan Kemampuan Menyimak
Dalam menyusun pelatihan kemampuan menyimak, terdapat tingkatan berjenjang yang menyangkut aspek kognitif mulai dari tingkatan ingatan sampai pada tingkat evaluasi (Nurgiantoro, 1987:219). Hal tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1) Pelatihan kemampuan menyimak tingkat ingatan
Untuk jenis ini pembelajar hanya dituntut untuk mengingat fakta atau menyebutkan kembali fakta-fakta yang terdapat di dalam wacana yang telah disimaknya. Hakta itu bisa berupa nama, peristiwa, angka, tanggal, tahun,dsb. Betuk pelatihan yang digunakan dapat berbentuk pelatihan obyektif, isian singkat atau bentuk pilihan ganda.
2) Pelatihan kemampuan menyimak tingkat pemahaman
Pelatihan jenis ini menuntut pembelajar untuk dapat memahami wacana yang disimaknya. Pemahaman bisa tertuju pada isi wacana, hubungan antar ide, antar faktor, antar kejadian, hubungan sebab akibat, dsb. Pemahaman pada tingkat ini belum terlalu kompleks tetapi hendaknya dihindari redaksi butir pelatihan yang secara langsung mengutip kalimat atau frase yang terdapat dalam wacana tetapi hendaknya berupa parafrasenya. Kemampuan pembelajar Untuk memilih parafrase secara tepat menunjukkan tingkat pemahaman yang baik terhadapa wacana yang disimaknya, dan bentuk pelatihan dapat berupa pelatihan esai atau pelatihan obyektif.
Tingkat kesulitan pelatihan sangat ditentukan oleh alternatif jawabanyang disediakan. Jika hubungan antara rangsang dan alternatif jawaban yang betul bersifat langsung dan jelas, maka butir pelatihan tersebut tergolong mudah. Tetapi jika hubungan itu berupa kelogisan, sebab akibat, atau hubungan yang lain yang tidak langsung, butir pelatihan itu bisa menjadi sangat sulit.
3) Pelatihan kemampuan menyimak tingkat penerapan
Butir-butir pelatihan kemampuan menyimak yang dapat dikatergorikan pelatihan tingkat penerapan ini adalah butir pelatihan yang terdiri dari pernyataan dan gambar-gambar sebagai alternatif jawaban yang terdapat di dalam lembar tugas . Kepada pembelajar diperdengarkan sebuah wacana atau beberapa wacana satu kali, dan tugas pembelajar adalah memilih diantara beberapa gambar yang disediakan yang sesuai dengan wacana. Tingkat kesulitan pelatihan ditentukan oleh tingkat kekomplekan gambar.

4) Pelatihan kemampuan menyimak tingkat analisis
Pada tingkat ini pembelajar dituntut untuk melakukan analisis wacana yang didasari pemahaman terhadapa wacana yang akan dianalisis. Analisis bisa berupa analaisis detail-detail informasi, mempertimbangkan bentuk dan aspek kebahasaan tertentu, menemukan hubungan kelogisan, sebab akibat, hubungan situasional, dan lain lain. Hubungan antara rangsang dan jawaban yang disediakan kurang ada hubungan secara langsung. hal yang membendakan pelatihan tingkat pemahaman dan analisis ini adalah tingkat kekomplekan wacana dan alternatif jawaban yang disediakan.

G. METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan pengembangan, karena penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan materi menyimak untuk pengguna SAC yang sesuai dengan teori pembelajaran menyimak. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model prosedural, yaitu model penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk.
Dalam penelitian ini digunakan model pengembangan yang ditawarkan oleh Dick & Carey (1990:198-199) yang menjabarkan tentang pengembangan materi pembelajaran sebagai berikut. Pertama mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, kedua menganalisis kondisi pembelajar, ketiga mengidentifikasi karakteristik dan kebiasaan pembelajar, keempat menyusun tujuan khusus atau operasional, kelima mengembangkan pokok-pokok atau kisi-kisi tes atau latihan, keenam mengembangkan strategi pembelajaran, ketujuh mengembangkan dan menyeleksi materi pembelajaran, pada setiap langkah selalu diadakan revisi sebelum sampai pada langkah terakhir yaitu menyusun tes akhir. Secara lebih jelas langkah-langkah tersebut dapat dilihat pada
bagan 1.

2. Prosedur Pengembangan
Pengembangan materi ini dilakukan dengan prosedur kerja sebagai berikut.
1. Melakukan kajian teoritis dan praktis tentang pembelajaran keterampilan menyimak dan pengemasan materi, yang meliputi kegiatan berikut.
a. Melaksanakan Observasi dan wawancara ke berbagai SAC, baik yang ada di Universitas Negeri Malang maupun yang ada di luar lembaga, dari SAC Jurusan Bahasa Arab maupun bahasa Inggris.
b. Mengkaji bahan-bahan referensial yang terkait dengan teori pembelajaran menyimak dan pengemasan materi, untuk dijadikan sebagai acuan dalam mengembangkan materi keterampilan menyimak.
c. Memberikan angket untuk mahasiswa dan dosen pembina mata kuliah menyimak, untuk menjaring data tentang kebutuhan akan materi keterampilan menyimak, jenis wacana, dan variasi tugas pembelajaran.
d. Melakukan wawancara dengan para dosen pembina matakuliah menyimak, untuk mendapatkan masukan tentang berbagai kriteria dan model pengembangan materi menyimak untuk SAC.
2. Menulis draf materi yang meliputi kegiatan:
a. Eksplorasi terhadap buku , kaset, dan VCD yang telah ada.
b. Melengkapi buku, kaset, dan VCD yang diperlukan.
c. Memilih dan mengurutkan tema-tema yang akan disusun menjadi materi dengan memperhatikan tingkat kemudahan, variasi materi, dan kemenarikan.
d. Menjabarkan teks dengan dilengkapi dengan tujuan menyimak,pertanyaan dan tugas-tugas pelatihan serta kunci jawaban, dengan memperhatikan berbagai teori tentang menyimak,strategi pembelajaran menyimak, dan pengukurannya.
3. Melakukan revisi awal, meliputi kegiatan:
a. Peninjauan ulang terhadap pilihan kata, istilah, dan kalimat.
b. Pengefektifan kalimat.
c. Penyuntingan aspek mekanik.
4. Melakukan review, yang meliputi kegiatan:
a. Pembahasan dalam kelompok
b. Pembuatan catatan
c. Klarifikasi dan Verifikasi.
5. Finalisasi, yang mencakup kegiatan berikut.
a. Rekonstruksi paparan berdasarkan masukan
b. Pemantauan berdasarkan pedoman evaluasi
c. Pemeriksaan akhir.

3. Subyek Penelitian
Adapun subyek penelitian adalah (1) mahasiswa jurusan bahasa atau sastra Arab dari tiga perguruan tinggi yang ada di kota Malang. Yaitu mahasiswa jurusan Satra Arab, Universitas Negeri Malang, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Malang, dan mahasiswa Jurusan bahasa Arab di Universitas Brawijaya.
(2) Dosen pembina matakuliah menyimak dari jurusan Satra Arab, Universitas Negeri Malang, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Malang, dosen Jurusan bahasa Arab Universitas Brawijaya

4. Data Penelitian
Data yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) topik materi yang diminati, (2) kompetensi menyimak yang diharapkan, (3) model dan bentuk tugas dan pelatihan yang diharapkan, dan (4) Media pembelajaran yang diminati.

5. Analisis Data Penelitian
Data penelitian yang sudah diperoleh melalui angket dianalisis secara deskriptif untuk menentukan jumlah prosentase, sedang data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara akan ditranskripsikan dan disimpulkan dengan diperbandingkan dengan teori pembelajaran menyimak melalui kajian refensi buku maupun hasil penelitian..

6. Uji Coba Produk
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efesiensi, dan daya tarik dari produk yang dihasilkan. Desain uji coba yang digunakan adalah uji coba kelompok kecil, yaitu kelompok pengguna SAC pengguna SAC yang diambil secara acak dari berbagai tingkat semester. Subyek uji coba produk dalam penelitian ini adalah subyek uji coba ahli dibidang bahasa Arab, subyek uji coba ahli dibidang produk pengembangan materi , dan subyek sasaran pemakai produk yaitu pengguna SAC.
Data yang dikumpulkan dalam tahap uji coba produk adalah data yang akan digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efesiensi, dan daya tarik dari produk yang dihasilkan. Data tersebut akan dikaji dengan menggunakan instrumen berupa angket terhadap pengguna SAC pemakai produk, konsultasi dengan pakar ahli bahasa arab, teori pembelajaran menyimak, dan teori pengembangan materi . Adapun teknik dan prosedur yang digunakan dalam menganalisis data uji coba ini adalah dengan mendeskripsikan data yang diperoleh melalui angket kepada pengguna SAC , dan masukan dari pakar, kemudian mengklasifikasikan data tersebut atas data yang menunjang aspek tujuan, sistematika, isi, bahasa, strategi pembelajaran, sistem pelatihan dan evaluasi yang digunakan.

7. Panduan Evaluasi
Tujuan:
b) Kejelasan tujuan penulisan materi dan tujuan setiap unit
c) Relevansi rumusan tujuan dengan konsep-konsep pokok yang dikembangkan
Sistematika:
a) Kejelasan hubungan antar unit
b) Kepaduan rumusan tujuan, konsep pokok, dan paparan
c) Variasi materi dan strategi pembelajaran

Isi:
a) Kesesuaian isi dengan rancangan
b) Kesesuaian strategi yang digunakan dengan isi teks
c) Kemenarikan tema


Bahasa:
a) Ketepatan diksi
b) Koherensi dan kohesifitas paragraf
c) Ketepatan ejaan

Strategi Pembelajaran:
a) Variasi strategi pembelajaran yang digunakan
b) Kemenarikan strategi
c) Keefektifan dan efesiensi

Sistem Evaluasi dan Pelatihan:
a) Variasi pelatihan
b) Keefektifan dan efesiensi pelatihan
c) Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.


KERANGKA PENGEMBANGAN MATERI
UNTUK KETERAMPILAN MENYIMAK BAHASA ARAB
DI SELF ACCES CENTER

TOPIK :
Kebahasaan, kebudayaan, agama, politik, pendidikan, ilmu, dan teknologi.
LEVEL/TINGKAT KEMAMPUAN:
Dasar, menengah, lanjut
KOMPETENSI:
JENIS MENYIMAK:
Komprehensif, apresiatif, evaluatif
PENGARAHAN UNTUK MEMAHAMI WACANA:
TUGAS DAN LATIHAN
KUNCI JAWABAN:
Teks dan jawaban latihan
Kompetensi Yang direncanakan :
1. Menentukan ide pokok wacana yang disimak.
2. Membuat kesimpulan wacana
3. Memahami kosakata dari wacana yang disimak
4. Mengkategorisasikan pesan dari wacana yang disimak
5. Membuat prediksi mengenai peristiwa yang akan terjadi berdasarkan informasi dari wacana yang disimak.
6. Mengurutkan informasi dari wacana yang disimak.
7. Memberikan evaluasi atau kritik terhadap wacana yang disimak.

MEDIA:
Kaset, Vcd, tape recorder, radio, televisi, komputer, dan internet.

Daftar Rujukan
Anderson & Lynch. 1988. Listening. Editor: Candlin & Widdowson. New York: Ocford University Press.

Ashin, A. 1981. Pengajaran Menyimak: Memilih dan Mengembangkan Tujuan Pengajaran . Jakarta: P2LPTK.

Cahyono, B.Y. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris: Teknik, Strategi, dan Hasil Penelitian. Malang: Penerbit IKIP Malang.

Clark. H. H. & Clark. E. V. 1977. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Darnaningrum, D.W. 1993. Analisis Latihan-Latihan dalam Materi Literarische Texte im Unterricht: Marchen. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang.
Dick & Carey. 1990. The Systematic Design of Instruction Third Edition. United States of America: Harper Collins Publishers.

Djiwandono, M. S. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: Penerbit ITB.

Farris, J.P. 1993. Language Arts Approach. Australia: Brwon & Benchmark Publishers.

Ibrahim, Ghozali, dan Sunaryo. 1983. Masalah Penyusunan Buku Teks Bahasa Indonesia di Sekolah. Warta Scientia, 37 (12), Desember 1983. Malang: FPBS IKIP Malang.

Kusumobroto, R.I. 1995. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FPBS IKIP Malang yang Telah Menempuh Matakuliah Istima’ II dalam Menyimak Berita Berbahasa Arab di Radio. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: IKIP Malang.

Morley J. 1984. Listening and Language Learning in ESL. New York: HBJ.

Nurgiantoro, B. 1984. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogjakarta: IKIP Yogjakarta.

Nurhidayati, 2003. Jenis dan Sebab Kesulitan yang Dihadapi Mahasiswa dalam Menyimak Teks Bahasa Arab. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Richards, J. 1988. Designing Instructional Materials for Teaching Listening Comprehention. Singapore: Seameo.

Rivers & Temperley. 1978. Apractical Guide to the Teaching of English as Second or Foreign Language. New York: Oxford University Press.

Rubin, J. & Mendelson D.J. (eds). 1995. Aguide for The Teching of Second Language Listening. San Diego, California:Dominie Press.

Syafi’ie, I. 1999. Diagnosis Kesulitan Belajar Bahasa. Dalam: Bahasa dan Seni. Tahun 27:1.

Tarigan, H. G. 1985. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tompkins & Hoskissons. 1991. Language Arts: Content and Teaching Strategies. New York: Macmillan Publishing Company.

Tresnadewi, S. 1994. Developping Listening Skill in EFL Classroom. Dalam: Guidelines. Volume: 16. No. 1.

Underwood, M. 1989. Teaching Listening. London: Longman.

Weir, C. 1990. Communicative Language testing. USA: Prentice Hall International.

Willis, J. 1981. Teaching English Trough English. London: Longman.
Yagang, F. 1993. Listening: Problems and Solutions. Dalam: English Teaching Forum. Vol.: 31. No. :1.
Zhiqian, W. 1989. Posible Aural Activites in The Listening Class. Dalam: Guidelines. Vol.: 11. No.: 1.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar