Rabu, 23 Juni 2010

Efektifitas Penerapan “Belajar Kooperatif” Model Struktural Dalam Meningkatkan Pemahaman Teks Berbahasa Arab Pada Matakuliah Tafsir di Prodi Pendidika

A. Judul Penelitian
Efektifitas Penerapan “Belajar Kooperatif” Model Struktural Dalam Meningkatkan Pemahaman Teks Berbahasa Arab Pada Matakuliah Tafsir di Prodi Pendidikan Bahasa Arab UM

B. Bidang Ilmu
Pendidikan Bahasa Arab

C. Bidang Kajian
Ilmu Tafsir al-Qur'an

D. Latar Belakang Penelitian
Membaca pemahaman atas teks merupakan salah satu aspek dalam keterampilan berbahasa, termasuk juga bahasa Arab. Membaca pemahaman memiliki beberapa tujuan, di antaranya adalah: (1) memprediksi isi bacaan, (2) memahami bacaan, (3) membuat ringkasan, dan (4) mengklarifikasi isi bacaan (Palinscar dan Brown dalam Burns dkk., 1996). Di perguruan tinggi, untuk mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran bahasa di atas, seorang dosen harus membuat rancangan pembelajaran yang baik dan mahasiswa dikelola agar aktif belajar, mampu memanfaatkan pengalaman, serta mampu membangun kerjasama di kelas sehingga pembelajaran lebih menarik, suasana kelas lebih dinamis, dan hasil pembelajaran lebih optimal.
Dalam merancang pembelajaran dosen harus memperhatikan tahap-tahap dalam pembelajaran membaca. Tahap-tahap dalam pembelajaran membaca oleh Burns dkk. (1996) dibagi menjadi tiga, yaitu tahap sebelum membaca bacaan atau pramembaca (prereading), ketika sedang membaca bacaan atau saat membaca (duringreading) dan setelah membaca bacaan atau pascamembaca (postreading). Selanjutnya, Burns dkk.(1996) menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dapat dilakukan di masing-masing tahap. Pada tahap pramembaca, kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa adalah memprediksi isi bacaan, menulis sebelum membaca (writing before reading), sedangkan kegiatan yang dapat dilakukan dosen adalah menyajikan peta cerita, memberikan pertanyaan pendahuluan, dan menyajikan drama mengenai isi cerita yang akan dibaca oleh mahasiswa. Pada kegiatan membaca, kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa adalah menjawab pertanyaan dan melengkapi bacaan. Pada kegiatan pascamembaca, dosen dapat memberikan visualisasi isi cerita, dan memberikan pertanyaan pascamembaca, sedangkan mahasiswa dipersilahkan untuk membaca bacaan lanjutan, dan menceritakan kembali isi bacaan dengan membuat ringkasan atau skema cerita.
Selanjutnya, menurut Gunning (1992) pada tahap saat membaca dosen dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan pengarah yang mampu mendorong mahasiswa memahami cerita, yaitu pertanyaan yang berhubungan dengan masing–masing unsur cerita. Sedangkan kegiatan pascamembaca menurut Burns dkk. (1996), dapat dilakukan oleh dosen dengan cara mengajak mahasiswa untuk membuat skema dari cerita yang telah dibacanya.
Proses pembelajaran membaca tersebut agar lebih efektif harus dilakukan secara kooperatif, hal itu dikarenakan begitu panjangnya rangkaian pembelajaran membaca yang dipersyaratkan dan beratnya tugas yang dipikul mahasiswa bila dilakukan secara mandiri. Bahkan, menurut Campbell dkk (2004) belajar kooperatif dapat meningkatkan pencapaian belajar siswa, mempercepat pembelajaran, meningkatkan daya ingat dan memiliki hasil akhir, yaitu tindakan positif terhadap pembelajaran itu sendiri.
Dalam konteks pembelajaran membaca pemahaman bahasa Arab di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (selanjutnya disingkat Prodi PBA JSA FS UM), ada empat matakuliah yang terkait dengan pemahaman teks, yaitu Muthalaah, Qiraah Muwassaah, Mustalahat Ashriyah dan Tafsir al-Qur'an. Dalam hasil penelitian yang dilakukan Ahsanuddin (2003) tentang “metode dan media pembelajaran matakuliah Muthala’ah (reading comprehension) di Prodi PBA JSA FS UM”, disebutkan bahwa dosen menggunakan 80% dari porsi waktu perkuliahan Muthalaah untuk penerapan metode qawaid (tatabahasa) dan tarjamah (alih bahasa) dan belum mengikuti tahapan–tahapan pembelajaran membaca pemahaman. Fakta di atas tentu berdampak pada kemampuan lulusan yang kurang kompeten dalam memahami teks-teks bahasa Arab secara cepat dan tepat.
Matakuliah tafsir adalah matakuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa yang mengambil program pilihan pendidikan agama Islam, yang membahas segala sesuatu yang terkait dengan penjelasan makna ayat al-Qur'an dan diambil dari teks-teks tafsir yang berbahasa Arab. Selama ini pembelajaran tafsir dilakukan dengan pola top down, yaitu dosen membaca atau menerangkan, sedangkan mahasiswa mendengarkan secara pasif. Teks tafsir yang berbahasa Arab oleh dosen biasanya diterjemahkan secara harfiyah, sehingga mahasiswa cenderung bosan dan tidak termotivasi untuk memahami sendiri teks-teks tersebut. Oleh karena itulah peneliti bersama kolaborator akan menerapkan strategi belajar kooperatif dengan metode struktural untuk meningkatkan kemampuan memahami teks-teks tafsir.
Strategi belajar kooperatif dipilih, karena menurut penelitian Lie dkk. ( 2002) bahwa strategi belajar kooperatif itu justru lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional di mana dosen merupakan sumber belajar satu–satunya di kelas. Dengan belajar kooperatif tugas dosen untuk melayani kebutuhan belajar mahasiswa yang berkemampuan rendah dapat dibantu oleh mahasiswa yang berkemampuan tinggi atau yang lebih dikenal dengan peer teaching (saling mengajar antarteman), sehingga kemampuan mahasiswa di kelas akan merata. Dengan demikian, untuk mengatasi permasalahan yang dirasakan dosen di Prodi PBA JSA FS UM, peneliti dan dosen akan melakukan tindakan pengoptimalan pembelajaran membaca pemahaman yang dilakukan dengan strategi belajar kooperatif.
Untuk itu, perlu kiranya penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan metode pembelajaran tafsir dengan menerapkan strategi belajar kooperatif model Struktural untuk memahami latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat.

E. Rumusan Masalah
Secara umum penelitian ini ingin mengetahui apakah penerapan strategi belajar kooperatif metode Struktural dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman teks-teks berbahasa Arab mahasiswa Prodi PBA JSA FS UM. Secara rinci rumusan masalah disajikan berikut ini.
(1) Apakah strategi belajar kooperatif model Struktural itu efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(2) Apakah strategi belajar kooperatif model Struktural itu efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman kosakata ayat (mufradatul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(3) Apakah strategi belajar kooperatif model Struktural itu efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman penjelasan isi kandungan ayat (syarhul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(4) Apakah strategi belajar kooperatif model Struktural itu efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman korelasi antar ayat (munasabatul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
F. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini ingin mengetahui bagaimanakah penerapan strategi belajar kooperatif dalam peningkatan kemampuan membaca pemahaman teks-teks berbahasa Arab mahasiswa Prodi PBA JSA FS UM. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
(1) Efektifitas strategi belajar kooperatif model Struktural dalam meningkatkan kemampuan pemahaman latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(2) Efektifitas strategi belajar kooperatif model Struktural dalam meningkatkan kemampuan pemahaman kosakata ayat (mufradatul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(3) Efektifitas strategi belajar kooperatif model Struktural dalam meningkatkan kemampuan pemahaman penjelasan isi kandungan ayat (syarhul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
(4) Efektifitas strategi belajar kooperatif model Struktural dalam meningkatkan kemampuan pemahaman korelasi antar ayat (munasabatul ayat) pada matakuliah tafsir di Prodi PBA JSA FS UM?
G. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki dua manfaat, teoritis dan praktis. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mendukung perkembangan strategi belajar kooperatif sebagai strategi belajar alternatif di antara strategi belajar individual dan strategi belajar kompetitif yang telah banyak dilakukan di kelas–kelas. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan pertimbangan bagi dosen, kepala program studi, penyusun buku ajar atau pihak lain yang berkepentingan, dalam memahami metode dan strategi yang efektif dalam pembelajaran tafsir al-Qur'an khususnya memahami latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat.
.

H. Kajian Pustaka
1. Strategi Belajar Kooperatif Model Struktural dan Unsur-Unsurnya
a. Pengertian Belajar Kooperatif
Strategi belajar mengajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembelajaran di kelas. Strategi belajar kooperatif (cooperative learning) didasari oleh filsafat Homo Homini Socius yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kerjasama antara manusia yang satu dengan manusia yang lain menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia (Lie, 2002).
Pembelajaran dengan strategi kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok. Konsep belajar kooperatif adalah adanya kerjasama antaranggota dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Belajar secara kooperatif adalah sebuah sosok pengetahuan dan penelitian yang telah diuji mempunyai pengaruh dalam pendidikan. Secara praktis sebagai suatu cara untuk mengatur kerja kelompok, mengubah cara belajar dengan saling menumbuhkan kemajuan akademik /belajar.
Strategi belajar kooperatif merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar mahamahasiswa dengan menggunakan sistem tutor antarteman, kerjasama kelompok, dan komunikasi dalam kelompok. Komponen kunci yang ada di dalam belajar secara kooperatif adalah interaksi, kerjasama, dan komunikasi (Roberts dan Kenney dalam Kindsvatter, 1996).
Slavin dalam Kindsvatter (1996), membuat suatu simpulan bahwa strategi belajar secara kooperatif adalah satu-satunya strategi pembelajaran yang telah diuji keberhasilannya dan telah dilakukan penelitian kira–kira lebih dari dua ratus buah, dengan waktu penelitian setidaknya empat minggu. Penelitian telah dilakukan di semua level kelas, pada semua mata pelajaran, semua tipe sekolah, dan untuk kelas dengan pencapaian tinggi, sedang maupun rendah.
b. Unsur–unsur dalam Belajar Kooperatif
Roger dan Johnson (dalam Lie, 2002), menegaskan bahwa tidak semua kerja kelompok dapat dianggap kerja kooperatif. Kerja kelompok dalam belajar kooperatif harus menunjukkan unsur-unsur berikut ini.

1) Saling ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kerja kelompok yang efektif dosen perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok menyelesaikan tugasnya sendiri supaya anggota yang lain bisa mencapai tujuan bersama. Keberhasilan menyelesaikan tugas oleh masing–masing anggota sangat menentukan keberhasilan kelompok.
2) Tanggung jawab perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur pertama. Setelah mahamahasiswa mengetahui bahwa pekerjaan mereka sangat menentukan hasil kelompok maka mereka akan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi kelompoknya. Mahamahasiswa yang kurang mampu tidak menggantungkan penyelesaian tugas kepada mahamahasiswa yang pandai karena masing–masing mempunyai tanggungjawab sendiri- sendiri.
3) Tatap muka
Setiap kelompok mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi dan berdiskusi. Di dalam proses penyelesaian tugas secara berdiskusi ini diharapkan dapat membentuk suatu sinergi yang menguntungkan masing–masing anggota. Dengan demikian diharapkan akan timbul rasa saling menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing–masing anggota. Sudah sewajarnya masing–masing anggota mempunyai latar belakang yang berbeda baik pengalaman, keluarga dan sosial ekonomi yang berbeda. Perbedaan ini justru menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya pengetahuan. Sinergi ini tidak secara langsung terbentuk melainkan melalui proses yang panjang. Untuk itu mahamahasiswa harus diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka dan interaksi pribadi.
4) Komunikasi antaranggota
Unsur ini menghendaki agar pembelajar dibekali berbagai keterampilan komunikasi. Sebelum dosen memberikan tugas yang harus diselesaikan, terlebih dahulu dosen memberikan penjelasan mengenai cara-cara komunikasi dalam berdiskusi. Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada kesediaan anggota saling mendengarkan dan kemampuan mereka mengemukakan pendapat. Apabila diperlukan, dosen harus memberikan contoh secara eksplisit mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana cara menyatakan pendapat, cara menyanggah pendapat orang lain, cara menolak pendapat orang lain tanpa menyinggung perasaan orang lain, dan lain-lain.
5) Evaluasi proses kelompok
Dosen perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kelompok dan hasil kerja sama mereka sehingga mereka dapat bekerjasama dengan lebih efektif pada waktu-waktu yang akan datang. Evaluasi tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali terlibat dalam pembelajaran secara kooperatif.

c. Model Struktural
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dan kawan-kawannya (1993). Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan metode lainnya, metode Struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Berbagai struktur tersebut dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar menjadi alternatif dari berbagai struktur kelas yang lebih tradisional, seperti metode resitasi, yang ditandai dengan pengajuan pertanyaan oleh guru kepada seluruh siswa dalam kelas dan para siswa memberikan jawaban setelah lebih dahulu mengangkat tangan dan ditunjuk oleh guru. Struktur-struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja sama saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif.
Menurut Nurhadi dkk (2004:67), ada struktur yang memiliki tujuan umum (goal) untuk meningkatkan penguasaan isi akademik dan ada pula struktur yang tujuannya untuk mengajarkan keterampilan sosial. Think-Pair-Share dan Numbered Head adalah struktur yang dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan akademik, sedangkan struktur Active Listening dan Time Tokens adalah struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial.
a. Think-Pair-Share
Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya (dalam Nurhadi dkk. 2004:66) dari Universitas Maryland yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru tersebut lebih memilih metode Think-Pair-Share daripada metode tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan kawan-kawannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah pertama: Berpikir (Thinking). Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu satu menit untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.
Langkah kedua: Berpasangan (Pairing). Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. lnteraksi selama periode ni dapat meng hasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan teah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikas Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dan 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Langkah ketiga: Berbagi (Sharing). Pada langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang tetah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dan pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dan pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
b. Numbered Head Together
Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur 4 langkah sebagai berikut.
Langkah pertama: Penomoran (Numbering): Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.
Langkah kedua: Pengajuan Pertanyaan (Questioning): Guru mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dan yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Contoh pertanyaan yang bersifat spesifik adalah “Di mana letak kerajaan Tarumanegara?”, sedangkan contoh pertanyaan yang bersifat umum adalah “Mengapa Diponegoro memberontak kepada pemerintah Belanda?”
Langkah ketiga: Berpikir Bersama (Head Together): Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
Langkah keempat Pemberian Jawaban (Answering): Guru menyebut satu nomor dan para siswa dan tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

2. Membaca Pemahaman
Lundsteen (1989) mengemukakan tingkat membaca pemahaman sebagai berikut: pemahaman literal, pemahaman inferensial, dan pemahaman evaluasional. Pada pemahaman literal, keterampilan yang harus dikuasai antara lain: ketrampilan mengidentifikasi ide pokok, ide penjelas, makna kata, mengenal hubungan sebab akibat, plot, struktur, pernyataan langsung, keterampilan menyebutkan kembali ide pokok, bagian-bagian, rincian plot dan informasi, tokoh, setting, dan keterampilan menganalisis dan mereorganisasikan informasi dengan cara meringkas, mensintesakan, mentrasnfer, menggarisbawahi, mengklarifikasi dan merespon pertanyaan. Pada pemahaman inferensial, keterampilan yang harus dikuasai adalah menginterpretasikan tema, tujuan, pesan, tokoh, alur, dan simbol-simbol, memberikan penafsiran umum terhadap tokoh, sifat tokoh, peristiwa dan informasi, dan filsafat moral, keterampilan memprediksikan hasil, pengembangan karakter, pola bahasa, gaya dan kosa kata. Pada pemahaman evaluasional, keterampilan yang harus dikuasai adalah memberikan pertimbangan filsafat dengan menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap penulis, pertimbangan realitas tingkat kemungkinan atau ketidakmungkinan, bukti, alasan, pengalaman, dan memberikan apresiasi dengan cara menyatakan perasaan terhadap isi atau subjek, cerita, alur, kekuatan yang dimiliki penulis, dan memberikan kritik.
Burns dkk. (1996) mengemukakan dua jenis pemahaman dalam membaca, yaitu membaca literal (literal comprehension) dan pemahaman yang lebih tinggi (higher-order comprehension). Pemahaman yang lebih tinggi mencakup: (1) pemahaman interpretatif (interpretative comprehension), (2) pemahaman kritis (critical comprehension), dan (3) pemahaman kreatif (creative comprehension). Pemahaman literal merupakan prasyarat untuk pemahaman yang lebih tinggi yaitu membaca untuk melokalisasikan detil–detil isi bacaan secara efektif. Pengenalan informasi yang dinyatakan merupakan dasar dari pemahaman literal khususnya informasi yang dinyatakan secara tersurat dalam bacaan. Pemahaman interpretatif adalah membaca apa yang tersirat atau membaca untuk interpretasi yang berbeda dengan bahan yang tertulis (reading between the lines). Dalam hal ini pembaca menginterpretasikan inti bacaan, mencari hubungan sebab akibat yang tidak dinyatakan langsung dari teks, maksud penggunaan kata–kata tertentu, alasan pengarang memilih sesuatu, tujuan pengarang, menarik simpulan dan menginterpretasikan bahasa yang bersifat figuratif (Burns dkk., 1996).
Lange (dalam Burns dkk., 1996) menjelaskan bahwa pembaca akan membuat simpulan dari bacaan sesuai dengan skemata mereka, tetapi penting untuk disadari bahwa para mahamahasiswa sulit membuat simpulan, walaupun mereka telah memiliki skemata yang sesuai dengan bahan bacaan. Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas dapat dinyatakan bahwa dalam pembelajaran membaca, kegiatan interpretatif berkaitan dengan membuat simpulan atau menginterpretasikan bacaan yang tersirat. Menarik simpulan berkaitan dengan ketepatan, kecocokan, dan ketepatan. Dalam membuat simpulan, pembaca akan mengaitkan dengan skemata yang dimiliki. Pada pembelajaran di kelas, mahamahasiswa memiliki skemata tetapi mereka tidak dengan mudah bisa membuat simpulan berdasarkan skemata yang dimiliki. Oleh sebab itu, dosen mempunyai peran penting dalam membantu mahamahasiswa memahami isi bacaan dan membuat simpulan berdasarkan skemata yang dimiliki.
Membaca kritis adalah mengevaluasi bahan–bahan tertulis dengan cara membandingkan skemata yang dimiliki pembaca. Membaca kreatif melibatkan aktivitas yang ada di luar materi bacaan yang dihadirkan pengarang (reading beyond the lines). Pembaca melakukan aktivitas berpikir karena membaca seperti ini akan menghasilkan gagasan-gagasan yang baru.
Dari beberapa uraian yang dikemukakan di atas, dapat diketahui bahwa jenis–jenis membaca pemahaman terdiri atas: (1) pemahaman literal atau membaca tersurat (reading on the lines), (2) Pemahaman interpretatif atau membaca secara tersirat (reading between the lines), (3) pemahaman kritis, dan (4) pemahaman kreatif atau membaca di luar teks (reading beyond the lines). Dalam penelitian ini difokuskan pada pemahaman literal dan interpretatif. Pemahaman mahasiswa terhadap latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat.

I. Metodologi Penelitian
1. Setting Penelitian
Obyek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) semester VI yang mengambil matakuliah Tafsir al-Qur'an tahun ajaran 2007-2008. Lokasi penelitian ini terletak di Jl. Surabaya, 06. Waktu penelitian selama delapan bulan dimulai bulan Februari 2007 s/d September 2007.

2. Langkah-Langkah Penelitian:
Penelitian ini direncanakan dalam tiga siklus. Pada masing-masing siklus peneliti bertindak sebagai dosen pengajar dalam kelas sedangkan peneliti lain berkolaborasi dalam mengamati kegiatan dalam kelas dan mendiskusikan pada setiap siklus penelitian. Berikut ini siklus-siklus yang akan ditempuh peneliti:

SIKLUS I
1. Tahap Perencanaan
- Peneliti menyusun rencana pembelajaran tafsir dengan menggunakan strategi belajar kooperatif
- Kolaborator memilih teks-teks tafsir yang sesuai dengan tingkatan mahasiswa
- Peneliti menyiapkan sarana pembelajaran berupa buku tafsir, kamus, modul dll
- Kolaborator menyiapkan format skema atau bagan kosong yang akan diisi mahasiswa
- Peneliti menyiapkan materi-materi tes, angket, lembar observasi
- Kolaborator menyusun materi untuk permainan peran yang disesuaikan dengan materi yang dibahas
- Peneliti dan kolaborator membuat alokasi waktu yang sesuai
2. Tahap Tindakan
Pada tahap tindakan ini ada empat materi yang diteliti, yaitu latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul), kosakata ayat (mufradatul ayat), penjelasan isi kandungan ayat (syarhul ayat) dan korelasi antar ayat (munasabatul ayat). Kemudia tiap materi tersebut harus diteliti dengan mengikuti 4 tahap model struktural dengan pola Numbered Head Together, yaitu:
- Tahap penomoran (numbering): Peneliti dan kolaborator membagi mahasiswa dalam kelas tafsir menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga 5 orang dan memberi mereka nomor sehingga mahasiswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.
- Tahap pengajuan pertanyaan (questioning): Peneliti dan kolaborator mengajukan suatu pertanyaan kepada mahasiswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dan yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum. Contoh pertanyaan yang bersifat spesifik adalah apa arti dari mufradat اليوم ، أكملت ، رضيت ? sedangkan contoh pertanyaan yang bersifat umum adalah Apa topik umum dari surat Luqman ayat 1-12?
- Tahap berpikir Bersama (head together): Para mahasiswa berpikir bersama untuk mencari korelasi antar ayat dan hikmat yang tersirat dari ayat.
- Tahap pemberian jawaban (answering): Peneliti dan kolaborator menyebut satu nomor dari para mahasiswa dan tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.
3. Tahap Pengamatan
- Peneliti bersama kolaborator mengamati seluruh tahapan kegiatan mahasiswa
- Perkembangan mahasiswa dalam membaca pemahaman teks-teks cerita, penguasaan kosa kata, penerapan kaidah gramatikal, semua dicatat dalam lembar observasi
- Mengamati secara langsung aktifitas mereka, suasana kelas, kondisi psikologis mereka
- Mahasiswa diminta untuk memberikan pendapatnya tentang perkembangan kompetensinya dalam membaca pemahaman bahasa Arab dan kendala-kendala yang dihadapi. Poin-poin tersebut diambil dari angket yang diberikan pada akhir setiap siklus
4. Tahap Refleksi
- Pada setiap akhir siklus, peneliti dan kolaborator membahas input informasi perkembangan yang diperoleh dari hasil tes, angket dan lembar observasi
- Hasil diskusi dijadikan dasar untuk merevisi scenario pembelajaran pada siklus II

SIKLUS II
1. Tahap Perencanaan
- Membuat rencana tindakan berdasarkan hasil tindakan pada siklus I terutama dengan melihat refleksi yang terjadi pada siklus tersebut, dengan menggunakan strategi belajar kooperatif guna memperbaiki kemampuan mahasiswa membaca pemahaman bahasa Arab
- Membuat permainan lain yang lebih menarik minat mahasiswa sehingga mereka merasa enjoy belajar
2. Tahap Tindakan
- Pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan
3. Tahap Pengamatan
- Pencatatan hasil pengamatan terhadap tidakan yang diberikan
4. Tahap Refleksi
- Setiap akhir siklus dosen dan kolaborator membahas input informasi perkembangan yang diperoleh dari hasil tes, angket dan lembar observasi
Perhatian: Apabila di akhir siklus II ini dianggap belum efektif dalam penerapan metode di atas maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya sampai benar-benar efektif.




SKEMA PROSEDUR PENELITIAN PPKP

3. Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan. Penelitian tindakan merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan–tindakan sebelumnya, serta untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi di kelas. Menurut Elliott (1992:54), penelitian tindakan merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelas. Penelitian tindakan ini mengintegrasikan antara mengajar, mengembangkan pengajaran, mengembangkan kurikulum, evaluasi, penelitian, dan refleksi ke dalam praktik pembelajaran.
Selain itu, Joni (1998) memberikan gambaran bahwa penelitian tindakan kelas merupakan satu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan yang dipilih untuk memperbaiki kondisi-kondisi praktek pembelajaran yang selama ini dilaksanakan. Cohen dan Manion (1980) menyatakan bahwa sifat penelitian tindakan adalah situasional, kolaboratif, partisipatori, dan evaluasi diri. Penelitian tindakan bertujuan untuk (1) memperbaiki, jika ditemukan masalah pada situasi khusus, (2) memberikan pelatihan dengan keterampilan dan metode baru, (3) memberikan inovasi dan pendekatan dalam pembelajaran, (4) memperbarui hubungan antara dosen sebagai praktisi dengan peneliti, dan (5) memberikan alternatif pemecahan masalah di dalam kelas. Sudarsono (2001), mengemukakan lebih lanjut mengenai karakteristik penelitian tindakan berikut ini.
(1) Situasional, artinya berkaitan langsung dengan kondisi konkret yang dihadapi dosen sehari-hari.
(2) Kontekstual, artinya pemecahan yang berupa model dan prosedur tindakan yang tidak lepas dari konteksnya; baik itu konteks sekolah, dan masyarakat tempat proses pembelajaran berlangsung. Seperti halnya di dalam penelitian ini pembagian kelompok juga memperhatikan jenis kelamin mahasiswa, artinya mahasiswa laki-laki satu kelompok dengan mahasiswa laki–laki demikian sebaliknya kelompok putri.
(3) Kolaboratif, artinya selalu ada partisipasi antara mahamahasiswa, dosen, dan peneliti untuk mencapai tujuan secara bersama-sama.
(4) Refleksi diri dan evaluasi diri, pelaksana tindakan serta objek yang dikenai tindakan melakukan refleksi dan evaluasi diri terhadap kemajuan yang telah dicapai.
(5) Fleksibel, dalam penelitian ini memberikan sedikit kelonggaran dalam pelaksanaan kaidah metodologi tanpa meninggalkan prinsip–prinsipnya. Misalnya tanpa ada prosedur pengambilan sampel dan pengumpulan data lebih bersifat reflektif.
4. Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini berupa data proses dan data produk. Data proses merupakan data yang menunjukkan kegiatan mahasiswa dalam melaksanakan diskusi kelompok, melaksanakan tutorial antarteman dan melaksanakan pelaporan hasil diskusi kelompok selama pembelajaran memahami latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat. Data produk merupakan data yang menunjukkan hasil kerja kelompok dalam memahami latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat..
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer berupa seluruh peristiwa yang terjadi dalam proses pembelajaran baik yang dilakukan dosen, maupun mahasiswa di kelas. Sedangkan sumber data sekunder berupa hasil kerja kelompok dalam memahami latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat.

5. Instrumen Penelitian
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri mengingat penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen penunjangnya adalah: (1) pedoman observasi untuk memudahkan pengamatan pada seluruh kegiatan dosen dan mahasiswa pada saat mendeskripsikan latar belakang turunnya ayat, kosakata, penjelasan isi kandungannya dan korelasi antar ayat, untuk menjamin tingkat akurasi pengamatan dibutuhkan alat perekam (tape recorder) untuk mengetahui kemampuan menguraikan tafsir sebuah ayat, (2) tes untuk mengetahui hasil capaian tindakan yang telah diberikan. Tes ini dirancang oleh peneliti untuk mengetahui kemampuan mahasiswa membaca pemahaman teks-teks cerita bahasa Arab dan kemampuan penguasaan kosa kata yang telah dipelajari. dan (3) pendokumentasian untuk menunjang penginterpretasian data melalui angket yang diberikan setiap akhir siklus.
Penelitian yang instrumen utamanya adalah peneliti sendiri, menurut Bogdan dan Biklen (1982) termasuk penelitian kualitatif. Oleh karena itu, penelitian ini termasuk penelitian yang bersifat kualitatif.
6. Analisa Data
Teknik Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992). Analisis yang dilakukan terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi.
Pada reduksi data dilakukan proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul di lapangan. Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan adalah menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa hingga dapat diambil simpulan.
Penyajian data merupakan suatu kumpulan informasi yang tersusun sehingga memberi kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. Pada dasarnya dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti bergerak di antara keempat komponen tersebut yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Peneliti mula-mula melakukan pengamatan yang mendalam di kelas mencakup segala kegiatan dosen dalam membangkitkan skemata mahasiswa, menjelaskan topik dan tujuan di awal pembelajaran, memperkenalkan cara bekerja kelompok secara kooperatif, membagikan bahan cerita, menentukan kelompok, melakukan pendampingan dan pengarahan saat diskusi kelompok sampai pada peran dosen dalam tahap pelaporan hasil diskusi kelompok. Pada saat melakukan pengamatan tersebut, peneliti sekaligus memilih data yang akan dipakai, memusatkan perhatian pada data yang mendukung tujuan penelitian, dan menggolong-golongkan data sesuai dengan tujuan penelitian. Di dalam proses tersebut peneliti juga melakukan pemberian makna atau interpretasi pada data yang muncul pada tiap-tiap tahap sehingga mudah dipahami pada tahap penyajian.
Setelah data cukup untuk disajikan, peneliti menarik simpulan sementara, kemudian melakukan triangulasi data berupa diskusi dengan dosen, diskusi dengan ahli. Setelah hasil simpulan sementara ditriangulasikan, kemudian peneliti melakukan pengambilan simpulan akhir.
Secara khusus data yang diperoleh dari angket, tes dan observasi dianalisis dengan dua cara yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan pada data berupa skor yang berasal dari tes tertulis, seperti tes kosakata, tes pemahaman dengan tejemah, yaitu dengan mencari rata-rata kelas (means) guna membandingkan tingkat keberhasilan atau peningkatan kompetensi. Demikian juga data yang diperoleh dari angket dianalisis dengan menghitung jumlah prosentase setiap item dalam angket penelitian.
Sedangakan kualitatif digunakan pada hasil observasi kelas pada akhir tiap tiap siklus yaitu pada tahap refleksi pada siklus I, II, dan seterusnya.

J. Jadwal Penelitian

JENIS KEGIATAN BULAN KE
1 2 3 4 5 6 7 8
A. PERSIAPAN X
1. Survey awal X
2. Diskusi hasil survey X
3. Diskusi dan Penyempurnaan desain X
4. Penyusunan instrumen X
5. Uji coba instrumen X
6. Penyempurnaan instrumen X X
B. PELAKSANAAN
1. Pelaksanaan Siklus I X
- Perencanaan X
- Tindakan X
- Pengamatan X
- Refleksi X
2. Pelaksanaan Siklus II X
- Perencanaan X
- Tindakan X
- Pengamatan X
- Refleksi X
3. Pelaksanaan Siklus III (bila belum mencukupi) X
- Perencanaan X
- Tindakan X
- Pengamatan X
- Refleksi X
4. Analisis Data Penelitian X
C. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN X X

K. Personalia Penelitian
1. Syafaat, S.Ag, M.Ag
2. Khoirul Adib, S.Pd, M.A

L. Biaya Penelitian
Biaya penyelenggaraan kegiatan penelitian PPKP ini sebesar Rp. 10.000.000 (Sepuluh juta rupiah) dengan rincian penggunaan dana sebagai berikut:
No URAIAN JUMLAH
1 Gaji dan Upah
a) Peneliti Utama: 8 bulan x Rp 200.000 x 1 orang 1.600.000
b) Peneliti Anggota: 8 bulan x Rp 175.000 x 1 orang 1.400.000
Jumlah 1 3.000.000
2 Bahan Habis Pakai
a) Kertas 3 rim x Rp 25.000 75.000
b) Disket 2 boks x Rp 50.000 100.000
c) CD-RW 5 keping x Rp 12.000 60.000
e) Tinta Printer 5 x Rp 25.000 125.000
f) Film 2 roll x Rp 35.000 70.000
g) Kaset kosong 10 x Rp 10.000 100.000
h) Cartridge 2 x Rp 250.000 500.000
Jumlah 2 1.030.000
3 Biaya Operasional
a) Kamera Foto 200.000
b) Download materi tafsir dari internet 50.000
c) Cuci cetak 2 roll x Rp 50.000 100.000
e) Observasi dan pengumpulan data 200.000
f) Sewa Media Presentasi 500.000
g) CD Room 350.000
h) Transportasi Peneliti 2 orang x Rp 200.000 400.000
i) Akomodasi 2 orang x 8 bulan x Rp 50.000 800.000
j) Pengiriman Laporan 200.000
k) Buku-buku referensi 500.000
l) Alat perekam 400.000
m) Pulsa Telepon 800.000
Jumlah 3 4.500.000
4 Publikasi dan Diseminasi Hasil
a) Publikasi 100.000
b) Diseminasi Hasil 300.000
c) Seminar 600.000
Jumlah 4 1.000.000
5 Lain-lain
a) Fotokopi Proposal 30 lb x 150 x 3 eks 13.500
b) Jilid Proposal 3 eks x Rp 7.500 22.500
c) Fotokopi tes, observasi dan angket 100.000
d) Pembuatan Proposal dan Laporan 2 orang x Rp 100.000 200.000
e) Fotokopi Laporan 100 lb x 150 x 10 eks 15.000
f) Jilid Laporan 10 eks x Rp 7.500 75.000
g) Peralatan tulis menulis 44.000
Jumlah 5 470.000
Jumlah 1 - 5 10.000.000

M. Daftar Pustaka

Azies, Furqonul dan A. Chaedar Al Wasilah. 2000. Pengajaraan Bahasa Komunikatif: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Bogdan, R C dan Biklen, S K. 1982. Qualitative Research For Education: an Introductory to Theory and Methods. Boston :Allyn and Bacon.
Burns, dkk. 1996. Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Boston: Houghton Mifflin Company.
Elliott, John. 1992. Action Research For Education Change. Millton Keynes: Philadelphia Open University Press.
Fananie, Zainuddin. 2001. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Foot C. Hugh, Michelle J. Morgan, Rosalynn H. Shute.1990. Children Helping Children. New York: John Wiley & Sons.
Ghazali, A. Syukur. 2002. Penerapaan Paradigma Konstruktivisme Melalui Strategi Belajar Kooperatif dalam Pembelajaran Bahasa. Dalam Jurnal Sumber Belajar. No. I Th. 9 September 2002. Malang: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran.
Harris, Albert J and Edward R. Sipay. 11975. How to Increase Reading Ability. 7th Edition. London: Longman.
Kindsvatter, Richard. 1996. Dynamics of Effective Teaching. London: Longman Group Ltd.
Legutke, Michael and Howard Thomas. 1991. Process and Experience in the Language Classroom. London.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di Kelas- Kelas. Jakarta: Grasindo.
Lundsteen, Sara W. 1989. Language Arts A Problem Solving Approach. New York: Harper and Row Publishing.
Miles, Mattew B and A. Michael Huberman.1992. Analisis Data Kualitatif. Diterjemahkan oleh Tjetjep Rohendi R. Jakarta: UI Press.
Nunan, David. 1999. Second Language Teaching and Learning. Boston: Heinle and Heinle Publisher.
Nurhadi dkk 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM Press
Oja, Sharon Nodie aand Lisa Smulyan. 1989. Collaborative Action Research: a Developmental Process. Great Britain: Taylor aand Francis Ltd.
Ruddel, Martha, Rapp. 1993. Teaching Content Reading and Writing. Boston: Allyn and Bacon.
Sudarsono, Fx. 2001. Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PAU-PPAI-UT.
Ur, Penny.1996. A Course in Language Teaching. Great Britain: Cambridge University Press.
Utomo, Padi. 1998. Strategi Belajar Secara Koperatif dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman Bacaan Ilmu Pengetahuan di Kelaas VI Sekolah Dasar. Tesis tidak diterbitkan. Malang: IKIP Malang.
A. Judul Penelitian
PENGEMBANGAN MEDIA CD INTERAKTIF UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA ARAB BAGI ANAK USIA TK
B. Bidang Ilmu
Media Pengajaran Bahasa Arab
C. Pendahuluan
Kemajuan sains dan teknologi di abad 21 ini sudah tidak terbendung lagi, ini ditandai adanya revolusi besar-besaran teknologi informasi, khususnya dengan ditemukannya piranti komputer dan internet.
Terlepas dari berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, kemajuan teknologi informasi telah memberikan kontribusi signifikan dalam mendorong kemajuan berbagai aspek termasuk pendidikan.
Pendidikan atau pembelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Arab, biasanya memakan waktu lama dan menemui banyak kendala tatkala dilakukan secara tradisional dan manual, sehingga mutlak diperlukan sebuah media pendukung.
Penggunaan multimedia komputer dalam pembelajaran bahasa Arab secara normatif akan mempercepat dan meningkatkan kualitas penguasaan bahasa, mengingat berbagai media yang diperlukan dalam pembelajaran bahasa seperti media audio, video, audiovisual, permainan bahasa, semua sudah terintegrasi di dalamnya. Hal itu tentunya bila didukung dengan penguasaan operasional teknologi yang baik dan juga penguasaan bahasa Arab.
Pembelajaran bahasa Arab akan mendapatkan hasil yang optimal bila dilakukan secara kontinyu (sustainable) di semua jenjang pendidikan mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Namun untuk jenjang pra sekolah dasar, pembelajaran bahasa Arab belum mendapatkan perhatian serius. Ini terlihat dari begitu minimnya literatur, media atau kurikulum bahasa Arab untuk anak, padahal masa pra sekolah ini (usia 3 – 5 tahun) adalah masa emas (golden age), yang merupakan masa di mana perkembangan kreatifitas dan intelegensi anak berada pada posisi puncak. Menurut penelitian di bidang neurology yang dilakukan Osborn, White dan Bloom) dinyatakan bahwa pada usia empat tahun pertama kapasitas kecerdasan manusia sudah terbentuk, artinya kalau pada masa itu otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka potensi otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Menurut DR. Howard Gardner (dalam Yudhi Herwibowo, 2003:2) pada diri seorang anak biasanya terdapat tujuh intelegensi, yang meliputi: (1) kemampuan bahasa dan linguistik, (2) kemampuan logika, (3) kemampuan visual, (4) Kemampuan musical, (5) kemampuan mengendalikan fisik, (6) kemampuan interpersonal, dan (7) kemampuan intrapersonal. Lebih lanjut Howard berpendapat apabila teknologi komputer dan internet diajarkan pada anak secara benar, maka paling tidak hal itu akan meningkatkan empat kemampuan yang pertama.
Di sisi lain pembelajaran bahasa asing untuk anak selain bahasa Arab -seperti bahasa Inggris- sudah cukup inovatif dan maju. Dengan semakin canggihnya teknologi saat ini, khususnya komputer, bisakah teknologi tersebut diterapkan untuk pembelajaran bahasa Arab anak?
Setelah peneliti mengamati kondisi riil di beberapa TK –khususnya TK Islam sebagai lembaga pendidikan formal yang mengajarkan bahasa Arab untuk anak- di Kota Malang banyak ditemukan TK yang memiliki komputer multimedia, namun multi-fungsi dari komputer itu kurang dioptimalkan, hanya dipakai untuk menulis dan bermain game serta tidak adanya program-program, bahan-bahan disket atau CD tentang pembelajaran bahasa Arab. Para siswa seakan dipaksa untuk menghafalkan mufradat/kosakata tertentu secara manual melalui nyanyian, sehingga tak jarang dari mereka merasa bosan dan akhirnya menganggap bahasa Arab itu lebih sulit dari yang lain.
Penelitian tentang pengembangan media pembelajaran bahasa anak sudah pernah dilakukan oleh Nurchasanah (2002), yang menghasilkan model permainan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Di sini peneliti ingin mengembangkan temuan tersebut pada media CD interaktif untuk anak pada pembelajaran bahasa Arab, yakni menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan.

D. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dirumuskan beberapa permasalahan, yaitu:
1. Bagaimanakah pola pengembangan media CD interaktif untuk pembelajaran bahasa Arab bagi anak usia TK?
2. Bagaimanakah tingkat efektifitas penggunaan media CD interaktif untuk pembelajaran bahasa Arab bagi anak usia TK?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah:
1. Mengembangakan media CD interaktif untuk pembelajaran bahasa Arab bagi anak usia TK
2. Menentukan tingkat efektifitas penggunaan media CD interaktif untuk pembelajaran bahasa Arab bagi anak usia TK

F. Tinjauan Pustaka
1. Media Pembelajaran Bahasa Arab dan Prinsip-Prinsip Pemanfaatannya
Media merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Karena itu media menjadi bagian integral dari keseluruhan proses pengembangan pelajaran.
Pengembangan merupakan suatu keharusan dalam dunia pembelajaran, karena sebagai bagian dari teknologi pendidikan, media senantiasa mengalami perkembangan dan kemajuan. Namun demikian, pengembangan media bukanlah persoalan mudah apalagi untuk mengefektifkan pembelajaran bahasa Arab. Menurut Ronald H. Anderson (1987) betapapun canggihnya media yang dipilih dan digunakan bukan dimaksudkan pengganti guru karena keberadaannnya tidak akan berarti tanpa guru. Selain itu pemilihan media yang efektif dan efisien, isi dan tujuan pelajaran haruslah sesuai dengan karakteristik media tertentu.
Agar media dan sarana pendukung bahasa Arab itu berfungsi sebagaimana mestinya, menurut Ismail Shiny (1996) harus mempedomani prinsip-prinsip berikut:
Pertama, guru seharusnya merumuskan secara jelas dan operasional tujuan pelajaran.
Kedua, guru seharusnya memperhatikan kesesuaian media dengan tingkat kemampuan, pengalaman dan umur siswa.
Ketiga, guru memperhatikan waktu, tenaga dan dana ketika akan menggunakan media.
Keempat, guru harus mempertimbangkan asas menarik dan asas manfaat sehingga bisa dipastikan hasilnya lebih efektif dan efisien bila menggunakan media itu.
Kelima, guru harus mempertimbangkan kualitas, artistik dan kelayakan media yang dipakai.
Untuk pengembangan media dan sarana pendukung pembelajaran bahasa Arab yang diharapkan relevan, menurut Muhbib Wahab (1999), adalah media yang murah, ekonomis, mudah, meriah, multifungsi seperti komputer.
Komputer selain untuk mengetik, memprogram, mencetak, juga dapat dipergunakan untuk menampilkan compact disk yang berisi berbagai macam program pembelajaran bahasa Arab.
Komputer dapat pula di set up untuk mengakses informasi dari berbagai tempat dengan internet, di samping dapat digunakan untuk membuka homepage atau e-mail yang kita isi dengan berbagai program yang sesuai dengan visi dan misi kita. Dari segi ekonomi harga komputer sekarang ini relatif murah, akan tetapi manfaat dan fungsinya sangat banyak.

2. Prinsip dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak
Salah satu prinsip umum pembelajaran adalah bahwa pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakteristik individual siswa yang menyangkut perkembangan emosional, perkembangan intelektual, kondisi sosial dan lingkungan budaya (Muhaiban, 2004).
Di samping prinsip di atas para ahli pembelajaran bahasa untuk anak di antaranya Scott, Lee, dan Borridge (dalam Rahmawati, 2000) mengemukakan beberapa prinsip pembelajaran yaitu:
1. Berpijak pada dunia anak
2. Berangkat dari sesuatu yang sudah diketahui dan mudah
3. Dikaitkan dengan hal-hal yang menjadi interes anak
4. Menggunakan bahasa sederhana
5. Tugas diorientasikan pada efektifitas kegiatan
6. Bahan dikombinasikan antara yang fiksi dan nonfiksi
7. Materi diorientasikan pada dua komponen bahasa (kosa kata dan struktur) dan empat ketermpilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
8. Budaya nasional dan asing diperkenalkan secara bertahap
9. Pokok-pokok pembelajaran dan tugas-tugas disesuaikan dengan usia pembelajar
Untuk memilih dan menentukan strategi pembelajaran bahasa Arab untuk anak, guru hendaknya terlebih dahulu memahami dengan baik prinsip-prinsip pembelajaran dan karakteristik siswa yang akan diajar. Karakteristik siswa tersebut antara lain menurut Muhaiban (2004): (1) siswa masih belajar dan senang berbicara tentang lingkungan mereka, (2) senang bermain, (3) senang mempraktekkan sesuatu yang baru diketahui atau dipelajari, (4) cenderung bertanya, (5) cenderung senang mendapatkan perhargaan, dan (6) cenderung mau melakukan sesuatu karena dorongan dari luar.
Adapun menurut Yudhi Heriwibowo (2002:20) secara umum ada tiga hal yang biasanya sangat disukai anak, yaitu: (1) gambar dengan warna-warna yang mencolok, (2) suara atau lagu, (3) cerita dan dongeng. Dalam mengajarkan bahasa yang didukung media jangan sampai tidak menyertakan tiga unsur di atas dan menghindai kesan terlalu serius dan kaku.
Asy-Sya’ban (dalam Ainin, 2002) juga mengemukakan beberapa prinsip yang harus dilperhatikan oleh guru dalam pemilihan materi, yaitu materi pembelajaran dimulai (1) dari hal yang diketahui oleh siswa ke hal yang belum diketahui, (2) dari yang paling mudah ke hal yang paling sulit, (3) dari yang paling sederhana ke hal yang paling kompleks, (4) dari yang kongkrit ke hal yang abstrak, dan (5) dari hal yang praktis ke hal yang teoritis.

3. Peran Komputer Sebagai Media Pembelajaran Bahasa
Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: “semua mudah dibereskan oleh komputer”. Ungkapan di atas meskipun tidak seluruhnya benar, tapi mengandung kesan bahwa peran komputer sedemikian luas dan luwes. Keluasan peran dari komputer ini mulai sebagai alat untuk mengerjakan mesin-mesin yang sangat canggih seperti simulator pesawat udara sampai perkara yang sepele sebagai pengganti juru ketik (Arcole Margatan, 2000:103).
Seiring dengan majunya teknologi termasuk komputer, dunia pendidikan terus bergerak secara dinamis untuk menciptakan berbagai inovasi seperti penciptaan media, metode, dan materi pendidikan yang semakin interaktif dan komprehensif.
Para ahli pendidikan telah mencoba untuk meneliti dan menciptakan berbagai metode yang tentu saja tidak lepas dari peran media sebagai sarana untuk penyampaiannya. Komputer merupakan media yang lengkap dan menyeluruh. Hampir semua ragam media yang ada tercakup dalam komputer. Media audio, visual, audio visual, permainan game dan sebagainya semua terintegrasi di dalam komputer. Ini adalah suatu keuntungan komputer yang belum tertandingi oleh piranti canggih yang lain.
Pembelajaran bahasa asing akan dianggap berhasil manakala si pembelajar bisa memahami percakapan pemilik bahasa sasaran (native speaker) dan juga mereka bisa memahami apa yang diucapkan oleh si pembelajar. Untuk itulah kebutuhan penciptaan milieu berbahasa bersama native speaker dan pengetahuan tentang letak geografi serta aspek sosio-kultural menjadi sebuah keharusan, namun inilah kendala terbesar pembelajaran bahasa asing. Melalui piranti komputer, semua kendala tersebut akan bisa disingkirkan sehingga optimalisasi pembelajaran bahasa akan mudah tercapai.
Menurut Budi Sutedjo (2002:28-29) komputer memiliki kelebihan dibanding media yang lain setidaknya dalam enam hal, yaitu:
1. Kecepatan
2. Keakuratan
3. Operasi otomatis
4. Kapasitas pengingat
5. Kemampuan mengikuti perintah
6. Daya tahan dalam memproses.
Perkembangan teknologi komputer yang cepat telah memperluas lingkup perannya seperti internet dan multimedia. Dalam konteks pembelajaran bahasa sudah banyak diciptakan compact disk program program kebahasaan. Berbagai aspek kebahasaan; fonologi, morfologi, sintaksis, leksikologi, dan sastra, serta aspek keterampilan berbahasa semua sudah bisa diakses dengan mudah melalui multimedia dan internet.

G. Kontribusi Penelitian
Hasil dari penelitian diharapkan memberikan kontribusi positif pada:
1. Peneliti lanjutan: Hasil dari penelitian pengembangan media komputer anak ini diharapkan bisa melengkapi kajian-kajian tentang media pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Arab yang ada selama ini, demikian juga hasil penelitian ini bisa dijadikan pijakan teoritis-praktis untuk penelitian-penelitian serupa, dengan demikian akan terjadi kesinambungan kajian komprehensif yang saling melengkapi.
2. Perguruan Tinggi: Sebagai pengembang IPTEK, perguruan tinggi dapat mentransfer hasil pengembangan media komputer ini kepada masyarakat yang membutuhkan, sebagai amalan yang ilmiah dan penerapan ilmu yang amaliah.
3. Lembaga TK: Hasil penelitian ini akan sangan berguna bagi lembaga yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa Arab untuk anak, sehingga mendapatkan output/lulusan yang lebih berkualitas.
4. Masyarakat (dalam hal ini guru-guru TK): Mereka mendapatkan masukan informasi baru tentang media pembelajaran bahasa anak dengan komputer.

H. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (developmental research), karena penelitian ini berusaha mengkaji masalah praktis, maksudnya masalah yang menghasilkan produk (Nurchasanah, 2001). Produk penelitian ini berupa alternatif model pengembangan media komputer untuk pembelajaran bahasa Arab untuk anak usia TK.
Karena penelitian ini adalah penelitian pengembangan, maka penelitian ini tidak memiliki data sebagai objek yang diteliti, tetapi sebenarnya memiliki sumber informatif yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan model, seperti hasil penelitian terdahulu, informasi dan pendapat dari guru-guru TK dan dari teman-teman sejawat dan dari para pakar.
Hasil penelitian terdahulu dipakai sebagai dasar untuk melihat jenis media yang selama ini digunakan. Sedangkan informasi dan pendapat dari guru, teman sejawat, dan para pakar dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan model. Selain itu dimanfaatkan juga teori-teori tentang media, pembelajaran bahasa, psikologi anak, komputer pendidikan sebagai landasan teoritis. Informasi-informasi tersebut diperoleh dengan cara berdiskusi dan memberikan angket kepada sasaran (guru-guru TK). Guru-guru yang harus mengisi angket adalah guru-guru TK Islam dan TK yang mengajarkan bahasa Arab di Kota Malang.
Adapun realisasi pendekatan pengembangan akan terlihat pada strategi pelaksanaan berikut ini:
a. Pengkajian Teori
Hasil pengkajian teori dimanfaatkan sebagai landasan teoritis pengembangan model. Teori-teori yang dimaksud adalah teori tentang media pembelajaran untuk anak, komputer anak, pengajaran bahasa, psikologi anak.
b. Survey
Survey dilakukan terhadap hasil penelitian terdahulu. Selain itu, dilakukan pula analisis terhadap informasidan pendapat yang diberikan oleh guru TK, teman sejawat, dan para pakar yang diperoleh dari kegiatan berdiskusi dan mengisi angket.
c. Pengembangan model
Hasil pengkajian teori dan hasil survey dipakai sebagai landasan pengembangan model. Setelah model dikembangkan dilakukan pemantapan dengan cara berdiskusi dengan teman sejawat dan para pakar.
d. Uji Model
Model yang sudah dikembangkan diuji efektifitas pemakaiannya. Efektifitas model yang dikembangkan akan bisa dilihat dari: (1) hasil yang diukur setelah sasaran (anak-anak) menggunakan model media komputer yang sudah dikembangkan, (2) keaktifan sasaran pada waktu belajar dengan menggunakan media komputer, dan (3) kegairahan dan ekspresi simpatik anak terhapat permainan yang digunakan.
e. Revisi Model
Hasil uji model dan saran-saran dari para pakar dan teman sejawat, serta saran-saran dari para guru dipakai sebagai dasar merevisi model jika diperlukan revisi.
Setelah model pembelajaran bahasa Arab dengan media komputer dihasilkan, akan dicobapakaikan di TK untuk mengukur efektifitasnya. Efektifitas pemekaian ini akan dilihat dari:
a. keberhasilan tujuan pembelajaran bahasa Arab di TK
b. responsi pada waktu belajar: kecepatan menghafal, keberanian berbicara dan keceriaan dalam belajar
c. efektifitas waktu yang digunakan untuk belajar bahasa Arab.
Langkah selanjutnya adalah menentukan program yang efektif untuk menerapkan pembelajaran bahasa Arab dengan komputer.

I. Jadwal Pelaksanaan
Jadwal kegiatan dari perencanaan sampai dengan pelaporan adalah:
No. Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4 5 6 7 8
1.



2.
3.
4.
5.
6.
7. Persiapan
- Orientasi Obyek
- Penyusunan Proposal
- Penyusunan Desain
Survey
Pengembangan model
Uji Model
Revisi Model
Penyusunan Laporan
Penyerahan Laporan
x



x



x
x





x




x







x








x








x
Penelitian ini dilaksanakan selama delapan bulan. Hari dan tanggal pelaksanaan akan ditentukan kemudian.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab, Muhbib. 1999. Pendayagunaan Media dan Sarana Pendukung Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah. Malang : PINBA Press.
Ainin. 2002. Pemilihan Materi Pembelajaran Bahasa Arab Untuk Anak, (Makalah tidak diterbitkan). Bandung: Penerbit ITB.
Anderson Ronald. 1987. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. Jakarta: Rajawali
Arcole Margatan. 2000. Kiat Memilih Komputer. Semarang: Dahara Prize
Dick, Walter, dan Carey. 1985. The Sistemic Desaign of Instruction. London : Scott, Foresman and Company.
Diknas Kota Malang. 2003. Daftar TK Se-Kodya Malang 2003
Heriwibowo, Yudhi. 2003. Internet For Kids. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Muhaiban. 2004. Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak (ALA) Melalui Lagu, (Makalah tidak diterbitkan). Malang: Universitas Negeri Malang.
Oetomo, Budi Sutedjo. 2002. e-Education. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Shini, Mahmud Ismail. 1984. Al-Mu’inay Al-Bashariyyah fi Ta’lim Al-Lughah. Riyadh: Jamiah Malik Abdul Aziz
A. Judul Penelitian
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TERJEMAH AL-QURAN UNTUK ANAK DENGAN METODE LITERAL
B. Bidang Ilmu
Bahasa Arab
C. Pendahuluan
Motivasi orang mempelajari bahasa Arab sangat beragam, mulai dari tujuan bisnis sampai tujuan agama. Tujuan bisnis ini lebih didasarkan pada kondisi negara-negara Arab sebagai ‘petro dolar’, penghasil minyak terbesar di dunia sehingga berbondong-bondong orang asia termasuk Indonesia masuk ke negara-negara Arab sebagai tenaga kerja, di samping itu ada juga yang belajar bahasa Arab untuk menjadi penterjemah, diplomat, guru dan lain sebagainya. Motivasi pertama ini ternyata tidak begitu signifikan bila dibandingkan dengan motivasi kedua, yaitu motivasi agama. Terbukti banyaknya lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa Arab sebagai alat memperdalam agama seperti pondok pesantren. Sementara itu kursus-kursus bahasa Arab untuk profesi, sebagaimana bahasa asing lain, amatlah jarang. Hal ini bisa dipahami karena sumber utama hukum dan norma Islam –al-Quran dan Hadis- berbahasa Arab.
Belakangan ini marak penyelenggaraan program pembelajaran terjemah al-Quran terutama di daerah perkotaan. Fenomena ini relatif baru karena biasanya orang yang ingin belajar al-Quran atau agama harus pergi ke pondok pesantren, madrasah diniyah atau lembaga pendidikan agama yang lain untuk mempelajari bahasa Arab terlebih dahulu dan itupun memakan waktu yang relatif lama minimal 3 – 4 tahun. Program pembelajaran terjemah al-Quran yang sekarang marak itu cukup memberi harapan besar bagi siapapun yang mau mendalami al-Quran tanpa memandang backround pendidikan dan profesinya. Dengan menggunakan metode sedemikian rupa sehingga lama pembelajaran tidak dalam hitungan tahun lagi, tapi bulan, hari bahkan hitungan jam, misalnya program terjemah al-Quran “Istiqlal” sistem 40 jam.
Tidak dipungkiri bahwa dari sisi kuantitas mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam bahkan penduduk muslim terbesar di dunia, namun dari sisi kualitas keberagaman perlu kita kaji kembali. Pembelajaran baca tulis al-Quran (baca: Taman Pendidikan al-Quran/TPQ) yang mengalami kebangkitan sejak awal tahun 90-an sampai sekarang masih semarak di mana-mana. Ini merupakan fenomena yang cukup menggembirakan, hanya saja muncul satu pertanyaan: cukupkah al-Quran –yang berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman hidup muslim- itu dibaca dan ditulis saja? Bagaimanakah kelanjutan pembelajaran al-Quran pasca TPQ (baca: belajar baca tulis al-Quran)?
Berbagai macam program terjemah al-Quran telah ditawarkan, bermacam-macam metode dan strategi sudah diciptakan, meski demikian porsi program, metode dan strategi pembelajaran terjemah al-Quran untuk anak yang telah ditulis dan ditawarkan bisa dibilang amat langka. Banyak contoh metode terjemah al-Quran sebut saja metode Granada, metode Istiqlal, metode Bahasa Arab Qurani. Metode-metode di atas sangat sulit diterapkan untuk anak-anak, selain lebih menekankan pendekatan gramatikal juga penggunaan bahasa yang penuh istilah linguistik, terlebih lagi pola penterjemahan global (baca: kalimat).
Para pakar pembelajaran bahasa untuk anak di antaranya Scott, Lee, dan Borridge (dalam Rahmawati, 2000) mengemukakan beberapa prinsip pembelajaran anak, di antaranya adalah harus berpijak pada dunia anak. Dunia anak adalah dunia bermain, bercanda dan bergembira. Dari sinilah perlu ada sebuah metode pembelajaran terjemah yang sesuai dengan dunia anak.


D. Perumusan Masalah
- Bagaimanakah efektifitas penerapan metode literal dalam pembelajaran terjemah al-Quran
- Bagaimanakah pola pengembangan pembelajaran terjemah al-Quran untuk anak dengan metode literal

E. Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk:
- mengetahui efektifitas penerapan metode literal dalam pembelajaran terjemah al-Quran
- mengembangkan pola pembelajaran terjemah al-Quran untuk anak dengan metode literal


F. Tinjauan Pustaka
a. Konsep terjemah
Dalam bahasa Indonesia, istilah terjemah diambil dari bahasa Arab tarjamah. Bahasa Arab sendiri juga memungut istilah itu dari bahasa Armenia, turjuman (Didawi, 1992: 37) yang berarti orang yang mengalihkan tuturan bahasa satu ke bahasa lain.
Az-Zarqani (dalam Syihabuddin, 2002:6) mengemukakan bahwa secara etimologis istilah terjemah memiliki empat makna, yaitu:
(a) Menyampaikan tuturan kepada orang yang tidak menerima tuturan itu. Makna terdapat dalam puisi berikut:
إن الثمانين – وبلغتها – قد أحوجت سمعي إلى ترجمان
Usia 80 tahun, dan aku telah mencapainya, pendengaranku memerlukan penerjemah
(b) menjelaskan tuturan dengan bahasa yang sama, misalnya bahasa Arab dijelaskan dengan bahasa Arab atau bahasa Indonesia dengan bahasa Indonesia pula.
(c) Menafsirkan tuturan dengan bahasa yang berbeda, misalnya bahasa Arab dijelaskan lebih lanjut dengan bahasa Indonesia atau sebaliknya.
(d) Memindahkan tuturan dari suatu bahasa ke bahasa lain, seperti mengalihkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Karena itu penerjemah bisa juga disebut pengalih bahasa.
Makna etimologis di atas memperlihatkan adanya satu karakteristik yang menyatukan keempat makna tersebut, yaitu bahwa menterjemah berarti menjelaskan dan menerangkan tuturan, baik tuturan itu sama dengan bahasa yang dijelaskannya atau berbeda.
Lebih lanjut Az-Zarqani mendefinisikan terjemah sebagai berikut:
التعبير عن معنى كلام في لغة بكلام آخر من لغة أخرى مع الوفاء بجميع معانيه ومقاصده .
Terjemah adalah sebuah ungkapan tentang arti sebuah kalimat dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain dengan memenuhi semua arti dan maksudnya


b. Asumsi-asumsi dalam penerjemahan
Menurut Syihabuddin (2002:14-15) ada beberapa asumsi dalam kegiatan penterjemahan, baik pada bidang teori, praktik, pengajaran, maupun evaluasi terjemahan, yaitu:
1. Penerjemahan merupakan kegiatan yang kompleks. Artinya bidang ini menuntut keahlian penerjemah yang bersifat mulidisipliner, yaitu kemampuan dalam bidang teori menerjemah, penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran berikut kebudayaannya secara sempurna, pengetahuan tentang berbagai bidang ilmu, dan kemampuan berfikir kreatif.
2. Budaya suatu bangsa berbeda dengan bahasa yang lain, karena itu pencarian ekivalensi antara keduanya merupakan kegiatan utama yang dilakukan seorang penerjemah.
3. Penerjemah berkedudukan sebagai komunikator antara pengarang dan pembaca. Dia sebagai pembaca yang menyelami makna dan maksud nash sumber, dan sebagai penulis yang menyampaikan pemahamannyakepada orang lain melalui sarana bahasa supaya orang lain memahaminya.
4. Terjemahan yang baik ialah yang benar, jelas dan wajar.
5. Terjemahan bersifat otonom, artinya terjemahan hendaknya dapat menggantikan nash sumber atau nash terjemahan itu memberikan pengaruh yang sama kepada pembaca seperti pengaruh yang ditimbulkan nash sumber.
6. Penerjemah dituntut untuk menguasai pokok bahasan, pengetahuan tentang bahasa sumber dan pengetahuan tentang bahasa penerima.
7. Pengajaran menterjemah dituntut untuk mengikuti landasan teoritis penerjemahan dan kritik terjemah.

2. Prinsip dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab untuk Anak
Salah satu prinsip umum pembelajaran adalah bahwa pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakteristik individual siswa yang menyangkut perkembangan emosional, perkembangan intelektual, kondisi sosial dan lingkungan budaya (Muhaiban, 2004).
Di samping prinsip di atas para ahli pembelajaran bahasa untuk anak di antaranya Scott, Lee, dan Borridge (dalam Rahmawati, 2000) mengemukakan beberapa prinsip pembelajaran yaitu:
1. Berpijak pada dunia anak
2. Berangkat dari sesuatu yang sudah diketahui dan mudah
3. Dikaitkan dengan hal-hal yang menjadi interes anak
4. Menggunakan bahasa sederhana
5. Tugas diorientasikan pada efektifitas kegiatan
6. Bahan dikombinasikan antara yang fiksi dan nonfiksi
7. Materi diorientasikan pada dua komponen bahasa (kosa kata dan struktur) dan empat ketermpilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
8. Budaya nasional dan asing diperkenalkan secara bertahap
9. Pokok-pokok pembelajaran dan tugas-tugas disesuaikan dengan usia pembelajar
Untuk memilih dan menentukan strategi pembelajaran bahasa Arab untuk anak, guru hendaknya terlebih dahulu memahami dengan baik prinsip-prinsip pembelajaran dan karakteristik siswa yang akan diajar. Karakteristik siswa tersebut antara lain menurut Muhaiban (2004): (1) siswa masih belajar dan senang berbicara tentang lingkungan mereka, (2) senang bermain, (3) senang mempraktekkan sesuatu yang baru diketahui atau dipelajari, (4) cenderung bertanya, (5) cenderung senang mendapatkan perhargaan, dan (6) cenderung mau melakukan sesuatu karena dorongan dari luar.
Adapun menurut Yudhi Heriwibowo (2002:20) secara umum ada tiga hal yang biasanya sangat disukai anak, yaitu: (1) gambar dengan warna-warna yang mencolok, (2) suara atau lagu, (3) cerita dan dongeng. Dalam mengajarkan bahasa yang didukung media jangan sampai tidak menyertakan tiga unsur di atas dan menghindai kesan terlalu serius dan kaku.
Asy-Sya’ban (dalam Ainin, 2002) juga mengemukakan beberapa prinsip yang harus dilperhatikan oleh guru dalam pemilihan materi, yaitu materi pembelajaran dimulai (1) dari hal yang diketahui oleh siswa ke hal yang belum diketahui, (2) dari yang paling mudah ke hal yang paling sulit, (3) dari yang paling sederhana ke hal yang paling kompleks, (4) dari yang kongkrit ke hal yang abstrak, dan (5) dari hal yang praktis ke hal yang teoritis.

Metode Literal dalam Pembelajaran Terjemah
Model penterjemahan literal adalah model penterjemahan kata demi kata yang oleh Larson dan Smalley (dalam Widyamartaya, 1994:24) disebut glossing atau interlinear translation. Di sini penterjemah mencara ekuivalen kata satu lawan satu. Menurut Bathgate model terjemahan kata demi kata atau terjemahan lurus, yang juga disebut literal translation, merupakan uji pertama penterjemahan. Bila hasilnya memadai baik dari segi makna maupun segi siruasi, selesailah. Model ini punya peranan penting dalam proses penterjemahan, sekurang-kurangnya menyadarkan kita bahwa penterjemah yang baik harus selalu mengupayakan kata yang setepat-tepanya.
Syihabuddin (2002) berpendapat bahwa objek metode ini merentang mulai penerjemahan kata demi kata, frase demi frase, kolokasi demi kolokasi, bahkan kalimat demi kalimat. Namun semakin panjang unit terjemahan literal, maka semakin sulit metode ini diterapkan.
Metode penterjemahan literal tampak pada contoh berikut ini:
وكما أن القشرة السفلى ظاهرة النفع بالإضافة إلى القشرة السفلى فإنها تصون اللب وتحرسه عن الفساد عند الادخار وإذا فصلت امكن أن ينتفع بها حطبا لكنها نازلة القدر إلى اللب وكذلك مجرد الاعتقاد من غير كشف كثير النفع بالإضافة إلى الكشف والمشاهدة التي تحصل بانتشار الصبر وانفساحه وإشراق نور الحق به
Sebagaimana kulit terbawah itu tampak manfaatnya dengan dikaitkan kepada kulit teratas, maka ia menjaga isi dan memeliharanya dari kerusakan ketika menyimpan. Apabila dipisahkan mungkin bisa dimanfaatkan untuk kayu bakar, tetapi turun kadarnya dengan dikaitkan kepada isi, begitu juga semata-mata keyakinan, tanpa tersingkap banyak manfaatnya di samping pada penyingkapan dan penyaksian yang berhasil dengan terbukanya dada dan kelapangannya, tersinarnya nur kebenaran padanya (Terjemah Ihya’ Ulumuddin, 1981:283).

Contoh di atas menunjukkan bahwa penerjemah mengalihkan nash sumber ke nash penerima secara literal, yaitu huruf demi huruf, kata demi kata, frase demi frase, klausa demi klausa, dan struktur demi struktur dialihkan secara persis dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia tanpa mempedulikan apakah urutan itu berterima atau tidak dalam bahasa penerima.
Meskipun prosedur literal kurang mampu menghasilkan terjemahan yang jelas, pemakaiannya tidak terelakkan, terutama dalam penerjemahan nash yang menggunakan metode setia dan metode semantis. Prosedur inipun ditempuh oleh penerjemah pada saat dia menjumpai struktur nash yang rumit sehingga diperlukan analisis struktur dan semantis yang rinci.


G. Kontribusi Penelitian
H. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (developmental research), karena penelitian ini berusaha mengkaji masalah praktis, maksudnya masalah yang menghasilkan produk (Nurchasanah, 2001). Produk penelitian ini berupa alternatif model pengembangan media komputer untuk pembelajaran bahasa Arab untuk anak usia TK.
Karena penelitia ini adalah penelitian pengembangan, maka penelitian ini tidak memiliki data sebagai objek yang diteliti, tetapi sebenarnya memiliki sumber informatif yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan model, seperti hasil penelitian terdahulu, informasi dan pendapat dari guru-guru TK dan dari teman-teman sejawat dan dari para pakar.
Hasil penelitian terdahulu dipakai sebagai dasar untuk melihat jenis media yang selama ini digunakan. Sedangkan informasi dan pendapat dari guru, teman sejawat, dan para pakar dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan model. Selain itu dimanfaatkan juga teori-teori tentang media, pembelajaran bahasa, psikologi anak, komputer pendidikan sebagai landasan teoritis. Informasi-informasi tersebut diperoleh dengan cara berdiskusi dan memberikan angket kepada sasaran (guru-guru TK). Guru-guru yang harus mengisi angket adalah guru-guru TK Islam dan TK yang mengajarkan bahasa Arab di Kota Malang.
Adapun realisasi pendekatan pengembangan akan terlihat pada strategi pelaksanaan berikut ini:
a. Pengkajian Teori
Hasil pengkajian teori dimanfaatkan sebagai landasan teoritis pengembangan model. Teori-teori yang dimaksud adalah teori tentang media pembelajaran untuk anak, komputer anak, pengajaran bahasa, psikologi anak.
b. Survey
Survey dilakukan terhadap hasil penelitian terdahulu. Selain itu, dilakukan pula analisis terhadap informasidan pendapat yang diberikan oleh guru TK, teman sejawat, dan para pakar yang diperoleh dari kegiatan berdiskusi dan mengisi angket.
c. Pengembangan model
Hasil pengkajian teori dan hasil survey dipakai sebagai landasan pengembangan model. Setelah model dikembangkan dilakukan pemantapan dengan cara berdiskusi dengan teman sejawat dan para pakar.
d. Uji Model
Model yang sudah dikembangkan diuji efektifitas pemakaiannya. Efektifitas model yang dikembangkan akan bisa dilhat dari: (1) hasil yang diukur setelah sasaran (anak-anak) menggunakan model media komputer yang sudah dikembangkan, (2) keaktifan sasaran pada waktu belajar dengan menggunakan media komputer, dan (3) kegairahan dan ekspresi simpatik anak terhapat permainan yang digunakan.
e. Revisi Model
Hasil uji model dan saran-saran dari para pakar dan teman sejawat, serta saran-saran dari para guru dipakai sebagai dasar merevisi model jika diperlukan revisi.
Setelah model pembelajaran bahasa Arab dengan media komputer dihasilkan, akan dicobapakaikan di TK untuk mengukur efektifitasnya. Efektifitas pemekeian ini akan dilihat dari:
a. keberhasilan tujuan pembelajaran di TK
b. responsi pada waktu belajar: kecepatan menghafal, keberanian berbicara dan kecerian dalam belajar
c. efektifitas waktu yang digunakan untuk belajar bahasa Arab.

PENGEMBANGAN BUKU AJAR BAHASA ARAB FONOLOGI UNTUK MAHASISWA

A. Judul Penelitian
PENGEMBANGAN BUKU AJAR BAHASA ARAB FONOLOGI
UNTUK MAHASISWA

B. Bidang Ilmu: Linguistik Bahasa Arab
C. Latar Belakang
Buku ajar merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar. Ia berfungsi sebagai sumber informasi siswa/pembelajar. Qafisyah (dalam Asrori, 2002) mengemukakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar bidang studi apapun bergantung pada tiga faktor utama, yaitu guru, siswa, dan buku ajar. Fisher (dalam Asrori, 2003) mengemukakan lima fungsi buku ajar. Kelima fungsi buku ajar tersebut adalah: (1) sebagai sumber pokok bahasan bagi guru, (2) sebagai dasar memberikan pekerjaan rumah (PR) dan tugas-tugas lain bagi siswa, (3) sebagai pegangan siswa dalam beraktivitas, (4) sebagai dasar membuat pertanyaan-pertanyaan ujian, dan (5) sebagai sumber keterampilan belajar.
Sedemikian urgensinya, ketersediaan buku ajar tentang linguistik bahasa Arab masih dibilang cukup langka di Indonesia, khususnya di Jurusan Sastra Arab Universitas Negeri Malang (UM). Termasuk juga dalam daftar buku langka tersebut yaitu buku ajar fonologi bahasa Arab, bahkan masih belum ada. Padahal Matakuliah Fonologi Bahasa Arab sudah lama masuk dalam kelompok matakuliah kebahasaan pada kurikulum Jurusan Sastra Arab UM (JSA) sejak tahun 1999 (Kurikulum & Silabus JSA UM, 2003).
Selama ini bahan ajar untuk pembelajaran fonologi di JSA hanya berupa handout, diktat, kumpulan makalah, beberapa buku fonologi dalam bahasa Arab. Kondisi semacam ini mengurangi kondusivitas dalam mengorganisasi sebuah perkuliahan, karena akan banyak kendala yang muncul, seperti kendala bahasa bagi mahasiwa yang kompetensi kebahasaannya lemah, waktu yang banyak terbuang untuk mentransfer bahasa (baca: menterjemah) sebelum masuk ke subtansi materi, dan juga kurangnya kohesivitas antar topik dan subtopik, bila buku yang dipakai masih berbahasa asing.
Dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab, sebetulnya sudah banyak ditulis dan diterbitkan buku ilmiah tentang fonologi bahasa Arab, sebut saja Al-ashwat al-Lughawiyyah (Ibrahim Anis, 1990), Ashwat al-Lughah (Abdur Rahman Ayyub, 1991), Ashwat al-Lughah al-Arabiyyah (Adil Khalaf, 1994), Ilm al-Lughah al-Mubarmaj (Kamal Ibrahim Badri, 1988), Ilm al-Lughah Al-Am: al-Ashwat (Kamal Muhammad Basyar, 1980), Arabic Phonetics (Khalil Semann, 2003).
Bertolak dari gambaran di atas, perlu kiranya dilakukan upaya pengembangan penulisan buku ajar fonologi BA berbahasa Indonesia yang benar-benar mampu (1) menjadi sumber informasi bagi pembelajar, (2) menjadi media bagi pengajar dalam menciptakan atmosfir pembelajaran yang bermakna, (3) menjadi sumber belajar yang mudah dan menarik bagi pembelajar atau pembaca, dan (4) mendorong adanya latihan-latihan aplikatif sehingga pembelajar akan terus menerus mengembangkan pemahamannya. Lebih dari itu, pengembangan buku ajar ini diharapkan juga dapat lebih meningkatkan citra perguruan tinggi, karena itu menjadi bagian dari prestasi ilmiah akademik yang menjadi tolok ukur kemajuan sebuah perguruan tinggi.

D. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, disusun rumusan masalah pengembangan sebagai berikut:
(1) Bagaimana model pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab secara teoritis?
(2) Bagaimana kelebihan dan kekurangan pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab selama ini di JSA?
(3) Bagaimana bentuk hasil pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab?
E. Tujuan Pengembangan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, kegiatan pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab bertujuan:
(1) dihasilkannya model pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab secara teoritis
(2) diketahuinya kelebihan dan kekurangan pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab selama ini di JSA
(3) dihasilkannya bentuk pengembangan buku ajar fonologi bahasa Arab

F. Spesifikasi Produk
Buku ajar yang dihasilkan mempunyai spesifikasi berikut:
(1) Buku ajar ini terdiri dari 16 unit/wihdah sesuai dengan jumlah pertemuan dalam satu semester
(2) dilengkapi dengan ringkasan dan soal-soal latihan
(3) diperjelas dengan gambar, grafik dan skema
(4) diperkaya dengan penggunaan istilah linguistik dalam tiga bahasa; Indonesia, Inggris dan Arab.

G. Pentingnya Pengembangan
Pengembangan buku ajar ini dianggap penting karena:
(1) belum adanya buku ajar fonologi bahasa Arab yang berbahasa Indonesia
(2) belum adanya buku ajar fonologi bahasa Arab yang disesuaikan dengan jumlah pertemuan dalam satu semester
(3) ingin memadukan teori fonologi umum dengan fonologi bahasa Arab


H. Asumsi
Pengembangan buku ajar ini dilandasi tiga asumsi, yaitu:
(1) Adanya buku ajar membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien
(2) Setiap bahasa mempunyai sistem bunyi (fonologi) tersendiri yang khas
(3) Penggunaan bahasa pertama pembelajar sebagai media komu- nikasi, lebih efektif daripada bahasa kedua/bahasa asing.

I. Kajian Pustaka
1. Buku Ajar
Buku ajar adalah bagian dari bahan ajar. Bahan ajar meliputi buku ajar, orientasi tugas, buku latihan dan media pembelajaran. Bahan ajar terus dilakukan inovasi oleh para pakar pendidikan agar tercipta proses pembelajaran yang inovatif dan variatif.
Bahan ajar merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar yang berfungsi sebagai sumber informasi bagi pembelajar. Asrori (2002) mengemukakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar dalam bidang apapun bergantung pada tiga faktor utama, yaitu pengajar, siswa dan bahan ajar. Buku ajar sering menempati posisi penting karena tiga faktor utama di atas kadang sangat tergantung pada buku ajar. Misalnya, pengajar kadang kurang kreatif dalam mengembangkan perkuliahan, sehingga pengajar menjadikan buku ajar sebagai tumpuan kesiapan guru dalam mengajar. Demikian juga siswa sangat bergantung pada buku ajar, sering kali terjadi materi yang disampaikan guru kurang jelas. Jadi keberadaan buku ajar cukup membantu ketiga faktor utama tersebut.
Green dan Petty (dalam Asrori, 2002) mengemukakan enam fungsi buku ajar, yaitu: (1) mencermainkan suatu sudut pandang tertentu mengenai kegiatan pembelajaran dan mendemonstrasikannya dalam bahan ajar yang disajikan, (2) menyajikan sumber pokok yang lengkap, mudah dipahami dan bervariasi, (3) menyajikan sumber belajar yang disusun secara logis dan sistematis, (4) menyajikan strategi dan sarana pembelajaran yang memotivasi pembelajar, (5) menyajikan fisasi (perasaan yang mendalam) awal sebagai penunjang bagi latihan dan tugas-tugas praktis, dan (6) menyajikan bahan/sarana evaluasi dan remidi yang serasi dan tepat guna.
Dalam pembelajaran kebahasaan, peranan buku ajar sangatlah urgen. Richard (dalam Asrori, 2002) mengemukakan urgensi buku ajar, di antaranya: (1) sebagai sumber presentasi materi, (2) sebagai sumber kegiatan bagi pembelajar dalam kegiatan komunikasi, (3) sebagai sumber referensi gramatika, kosakata, pengejaan dan lainnya, (4) sebagai sumber stimulasi dan ide dalam kegiatan kelas, (5) sebagai silabus dalam arti menjabarkan tujuan yang telah ditetapkan, dan (6) sebagai pendorong pembelajar yang berpenga-laman minimal.

2. Aspek-Aspek Kajian dalam Fonologi
Bahasa adalah sistem bunyi yang mengandung makna yang sesuai dengan konvensi masyarakat. Bahasa memiliki sejumlah komponen yang secara keseluruhan muncul simultan, meliputi kompunen (1) bunyi, (2) kata, (3) kalimat, dan (4) makna. Selain itu sebagai suatu sistem, bahasa juga memiliki kontinuitas sehingga memungkinkan untuk diteliti, dideskripsikan, serta dijelaskan secara obyektif dan sistematis.
Hasil deskripsi suatu bahasa serta penjelasan yang diberikan, kemudian membuahkan seperangkat kaidah disebut tatabahasa (IGN Oka, 1988:17). Salah satu komponen yang berkaitan dengan sistem kaidah bunyi ialah komponen fonologis, baik yang membedakan arti maupun tidak.
Ditinjau dari kajian fonologi, bunyi ujaran sebagai gejala bahasa dapat dikaji sebagai realitas forma yang memiliki berbagai ciri, dan perbedaan, juga dapat dikaji sebagai unsur yang membedakan arti. Fonologi di samping membahas fonetik juga fonemik. Bidang kajian fonetik membahas bagaimana ciri getaran udara, gerakan alat-alat bicara maupun koordinasinya sehingga menghasilkan bunyi tertentu (fonetik artikulatoris).
Adapun bidang kajian fonemik membahas bunyi sebagai satuan minimal yang membedakan arti, sesuai dengan relasi dan distribusinya. Ada beberapa pandangan dalam menyikapi fonem sebagai suatu realitas abstrak. Dalam hal ini fonem dipandang sebagai realitas psikologis yang mencerminkan aspek kejiwaan penuturnya. Ini berbeda dengan wujud bunyi sebagai bunyi itu sendiri yang merupakan kenyataan “fisiofonetik”.
Berdasarkan wawasan teoritis di atas, model yang digunakan untuk membahas aspek fonologi bahasa Arab adalah (1) bunyi ujaran yang memiliki dua aspek, yaitu: gejala fisiologis dan fisiofonetik, (2) bunyi ujaran sebagai gejala fisiologis dimasukkan dalam kajian fonetik artikulatoris, sedangkan gejala abstrak dimasukkan dalam kajian fonemik atau fonologi, (3) fon sebagai gejala fisiologis memeiliki hubungan yang sangat erat dengan fon, karena fon berkaitan dengan kongkretisasi fonem, (4) selain memiliki kekhasan sistem, juga kekhasan masyarakat bahasa (IGN Oka, 1988:8).
Selain dua aspek di atas, Hasan (1996:38) menambahkan aspek fonetik akustik, yaitu gelombang bunyi yang disampaikan dari satu ucapan kemudian gelombang tersebut menggetarkan udara yang dilalui. Sementara itu Syukur Ibrahim (1987:11) memasukkan juga aspek fonetik auditoris, yaitu sebuah pendekatan dalam melihat bunyi-bunyi bahasa dalam hubungannnya dengan cara penerimaan bunyi-bunyi tersebut diterima oleh telinga. Aspek ini secara tidak langsung berhubungan dengan neurologi (ilmu syaraf) yang merupakan baagian dari ilmu kedokteran.


J. Sistematika Penulisan
Pengembangan buku ajar fonologi direncanakan terdiri dari enam bab. Bab I, pendahuluan berisi konsep-konsep umum tentang hal-hal yang terkait dengan fonologi, yang terdiri dari: (a) bahasa dan sistem bunyi, (b) fonetik dan fonemik, (c) fonetik dan cabang-cabangnya, serta dilengkapi dengan ringkasan dan latihan. Pada bab II akan ditampilkan fonetik artikulatoris yaitu cara kerja dan tempat atau organ sumber bunyi, yang meliputi: (a) sistem produksi bunyi ujaran, (b) alat ucap dan cara kerjanya, (c) ciri-ciri distingtif bunyi, (d) transkripsi bunyi ujaran, (e) fon dan fonem, (f) alofon, (g) pasangan minimal, serta dilengkapi dengan ringkasan dan latihan.
Pada bab III, penulis akan memfokuskan pembahasan pada fonologi bahasa Arab yang meliputi: (a) fonem segmental BA, (b) fonem suprasegmental BA, serta dilengkapi dengan ringkasan dan latihan. Pada bab IV lebih khusus lagi dibahas fon-fon bahasa Arab yang meliputi: (a) klasifikasi dan deskripsi fon BA, (b) distribusi fon BA, serta dilengkapi dengan ringkasan dan latihan. Sedangkan pada bab V dibahas fonem-fonem bahasa Arab, yang meliputi: (a) fonem vokal BA, (b) fonem konsonan BA. Dan untuk bab VI dibahas suku kata bahasa Arab, yang meliputi: (a) pola suku kata, (b) pola deret suku kata, suprasegmental bahasa Arab juga dilengkapi dengan ringkasan dan latihan.
Penulisan buku ajar ini dimulai dengan pengamatan pendahuluan terhadap buku-buku fonologi dan juga mahasiswa yang pernah mengikuti matakuliah fonologi bahasa Arab, serta sejumlah penutur asli bahasa Arab. Banyak sekali ragam fonologi yang bisa dibahas atau diteliti, seperti: idiolek (gaya bahasa perorangan), dialek (gaya bahasa kelompok), register (logat), unda-usuk (tingkatan bahasa), enjaya (rendah-kasar), engghi-enten (tingkat bahasa tengah), dan Ingghi-bhunten (tinggi-halus) (Pratista, 1984:8). Kajian di atas dimasukkan dalam kelompok ekstrinsik-nonstruktural. Ada juga kajian intrinsik-struktural fonologi yang mengkaji sistem bunyi bahasa dilihat dari ilmu bunyi (fonetik) dan sistem bunyi yang dilihat dari ilmu fonem (fonemik). Oleh karena luasnya bidang kajian fonologi ini, pembahasan akan difokuskan pada kajian intrinsik-struktural saja. Selanjutnya akan ditekankan pada: (1) jenis-jenis fon dan fonem bahasa Arab, (2) realisasi dan distribusinya, dan pola strukturnya.

K. Metode Pengembangan
Dengan mempertimbangkan proses kegiatan yang ada, diputuskan prosedur yang dipakai dalam kegiatan pengembangan ini adalah studi eksplorasi (Arikunto, 1998).
Berdasarkan pendapat Vacca dan Vacca (1993:241) kegiatan penulisan buku ajar khususnya dan kegiatan menulis pada umumnya, merupakan kegiatan kreatif yang melibatkan tiga fase kegiatan, yaitu eksplorasi, perencanaan, dan pengorganisasian. Dalam konteks penulisan buku ajar, kegiatan eksplorasi diarahkan pada (a) pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yang salah satunya adalah kurikulum, (b) perkembangan dan perubahan paradigma berkenaan dengan konsep yang akan digarap, (c) kemungkinan relevansi antara konsep-konsep pokok yang akan digarap dan perkembangan kehidupan sosial masyarakat, (d) gambaran konkret peran dan nilai praktis dari buku yang akan digarap.
Pada bab ini dikemukakan tiga hal yang dilakukan dalam kegiatan proses pengembangan, yaitu (a) pengkajian teori, (b) studi eksplorasi dan (c) prosedur pengembangan.
1. Pengkajian Teori
Yang dimaksud pengkajian teori di sini adalah pengkajian terhadap teori-teori fonologi bahasa Arab dan hasil penelitian terdahulu mengenai mata kuliah fonologi bahasa Arab. Pengkajian teori ini dimuat dalam pendahuluan dan kajian pustaka
2. Studi Eksplorasi
Studi eksplorasi dilakukan terhadap tiga hal, yaitu: (1) eksplorasi terhadap kurikulum jurusan, (2) eksplorasi terhadap pendapat dan minat mahasiswa, dan (3) eksplorasi terhadap lembaga lain yang menyelenggarakan program matakuliah sejenis.
Eksplorasi terhadap kurikulum dilakukan dengan melihat perkembangan kurikulum fonologi bahasa Arab dari tahun ke tahun termasuk silabus dan RPS, serta hasil penelitian terdahulu terhadap pelaksanaan kurikulum dan permasalahan yang dihadapi.
Adapun eksplorasi terhadap pendapat dan minat mahasiswa dilakukan dengan menyebarkan angket dan wawancara kepada mahasiswa, baik yang sedang menempuh matakuliah itu atau yang sudah menempuh. Dengan demikian diharapkan pelaksana pengembangan buku ajar ini dapat masukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan perkuliahan fonologi serta buku ajar fonologi BA.
Sedangkan eksplorasi terhadap lembaga yang menyelengga-rakan program serupa dilakukan di Jurusan Sastra Arab (S1) dan Konsentrasi Pembelajaran Bahasa Arab (S2) Universitas Islam Negeri Malang (UIN) atau di lembaga pembelajaran bahasa Arab lainnya.

3. Prosedur Pengembangan
Secara umum prosedur yang akan ditempuh dalam penyusunan buku ajar ini diorientasikan pada prosedur kegiatan penulisan dan pengembangan buku ajar. Prosedur tersebut dijelaskan sebagai berikut.
Tahap 1: Perencanaan Penulisan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah (a) eksplorasi kurikulum (b) eksplorasi perkembangan dan perubahan paradigma, (c) eksplorasi perkembangan kehidupan sosial masyarakat, (d) eksplorasi peran dan nilai praktis, (e) penyusunan rencana penulisan yang meliputi sistematika, pengembangan komponen, dan relevansi.
Tahap II: Penulisan Draf
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah (a) pemaparan komponen, (b) identifikasi hubungan isi antarkomponen, (c) pengembangan.
Tahap Ill: Penulisan Ulang
Kegiatan yang dilakukan adalah (a) perbaikan pilihan kata, kalimat, dan paragraf, (b) pengefektifan dan kejelasan makna, (c) penyuntingan aspek mekanik.
Tahap IV: Review Kejelasan dan Kesesuaian
Kegiatan yang dilakukan meliputi (a) pembahasan dalam kelompok, (b) pembuatan catatan, (c) identifikasi masukan, dan (d) klarifikasi.
Tahap V: Revisi akhir, Evaluasi, Finalisasi, dan Publikasi
Kegiatan yang dilakukan meliputi (a) rekonstruksi masukan, (b) komparasi dengan pedoman evaluasi, (c) perbaikan dan pemeriksaan akhir

4. Pedoman Angket dan Wawancara
Pedoman angket dan wawancara ini dimaksudkan untuk (1) dijadikan bahan evaluasi diri bagi penulis, (2) dijadikan pedoman ketika penulis mengadakan review secara kelompok, (3) sebagai bahan evaluasi setelah buku ajar disusun, direproduksi, dan dimanfaatkan pembaca. Dengan pedoman ini diharapkan penulis dengan mudah dapat mernperoleh masukan demi perbaikan pada pernerbitan berikutnya. Pedoman penilaian itu disusun sebagai berikut.

a. Tujuan
• Apakah tujuan penulisan buku ajar dan tujuan setiap uraian bab tergambar dengan jelas?
• Apakah tujuan yang dinyatakan relevan dengan konsep pokok yang dikembangkan?
b. Sistematika
• Apakah buku ajar telah mencerminkan hubungan yang jelas antarbagiannya?
• Apakah pada setiap pemaparan dinyatakan tujuan, konsep pokok, uraian, ringkasan, dan latihan secara terpadu dan utuh?
• Apakah uraian setiap paragraf mencerminkan pola pengembangan yang baik?
c. Isi
• Apakah isi buku mencerminkan penggunaan paradigma yang sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat?
• Apakah isi buku ajar berfungsi memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang fonologi bahasa Arab?
• Apakah pembaca dengan mudah dapat menentukan fokus ketika membaca uraian dalam bacaan?
• Apakah pembaca dengan lancar memahami isi buku ajar?
• Apakah pembaca mudah menyusun kesimpulan dan menjelaskan kembali isi bacaan?
d. Bahasa
• Apakah penulis menggunakan pilihan kata secara tepat. jelas dan cermat?
• Apakah penulis menggunakan kalimat secara efektif?
• Apakah hubungan kalimat satu dengan yang lain dari setiap paragraf dan hubungan antarparagraf teruntai secara jelas dan terpadu?
• Apakah penulis menggunakan ejaan secara tepat dan cermat?
e. Pemaparan
• Apakah dalam memaparkan gagasan penulis memanfaatkan grafik atau gambar?
• Apakah grafik atau gambar itu tergarap dengan baik?
• Apakah grafik atau gambar itu membantu pembaca untuk lebih mudah memahami bacaan?
• Apakah gambar atau grafik itu memotivasi pembaca untuk lebih mendalami isi bacaan?
f. Manfaat
• Apakah buku yang Anda baca menjanjikan kemungkinan pembentukan pemahaman secara utuh mengenai fonologi bahasa Arab?
• Apakah buku ajar yang Anda baca memberi peluang kepada pembaca
melakukan evaluasi pemahaman dan keterampilan?

L. Kerangka Isi
Berdasarkan konsepsi yang telah dikemukakan di atas, kerangka isi pengembangan buku ajar fonologi ini disusun sebagai berikut:

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I: PENDAHULUAN
1.1. Bahasa dan sistem bunyi
1.2. Fonetik dan fonemik
1.3. Fonetik dan cabang-cabangnya
1.4. Ringkasan dan Latihan
BAB II: FONETIK ARTIKULATORIS
2.1. Sistem produksi bunyi ujaran
2.2. Alat ucap dan cara kerjanya
2.3. Ciri-ciri distingtif bunyi
2.3.1.Konsonan
2.3.2. Vokal
2.4. Transkripsi bunyi ujaran
2.5. Fon dan fonem
2.6. Alofon
2.7. Pasangan minimal
2.8. Ringkasan dan Latihan
BAB III: FONOLOGI BAHASA ARAB
3.1. Fonem segmental BA
3.1.1. Konsonan BA
3.1.2. Vokal BA
3.1.3. Semivokal BA
3.2. Fonem suprasegmental BA
3.3. Ringkasan dan Latihan
BAB IV: FON-FON BAHASA ARAB
4.1. Klasifikasi dan deskripsi fon bahasa Arab
4.1.1. Klasifikasi dan deskripsi Vokoid
4.1.2. Klasifikasi dan deskripsi Kontoid
4.2. Distribusi fon bahasa Arab
4.2.1. Distribusi Vokoid
4.2.2. Distribusi Kontoid
4.2.3. Distribusi kombinasi
4.3. Ringkasan dan Latihan
BAB V: FONEM-FONEM BAHASA ARAB
5.1. Fonem vokal
5.1.1. Macam-macam fonem vokal
5.1.2. Varian fonem vokal pada kata dasar
5.1.3. Gugus vokal (diftong)
5.1.3.1. Macam-macam gugus vokal
5.1.3.2. Pola gugus vokal
5.2. Fonem konsonan
5.2.1. Macam-macam fonem konsonan
5.2.2. Bunyi geminat sebagai sebagai fonem bahasa Arab
5.2.3. Varian konsonan pada kata dasar
5.2.4. Gugus konsonan
5.2.4.1. Macam-macam gugus konsonan
5.2.4.2. Pola gugus konsonan
5.2.5. Bunyi varian antar morfem
5.3. Ringkasan dan Latihan
BAB VI: SUKU KATA DAN SUPRASEGMENTAL BAHASA ARAB
6.1. Pola suku kata
6.2. Pola deret suku kata
6.3. Suprasegmental Bahasa Arab
6.4. Ringkasan dan Latihan
Glosari
Indeks


M. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan dari perencanaan sampai dengan pelaporan adalah:
No. Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4 5 6
1.



2.
3.
4.
5.
6. Persiapan
- Orientasi Obyek
- Penyusunan Proposal
- Penyusunan Desain
Pengambilan data
Klasifikasi dan Analisis Data
Review Buku
Penyusunan Buku
Penyusunan Laporan
x
x



x



x
x





x




x







x
Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan. Hari dan tanggal pelaksanaan akan ditentukan kemudian.

N. Personalia Penelitian
Kegiatan ini dilaksanakan oleh satu peneliti, yaitu:
a. Nama dan Gelar Akademik : Syafaat, S.Ag, M.Ag
b. Pangkat/Golongan : Penata Muda Tk.I/III-b
c. NIP :132 304 924
d. Jabatan Fungsional : -
e. Bidang Keahlian : Bahasa Arab
f. Fakultas/Jurusan : Fakultas Sastra/Sastra Arab
g. Waktu dan Kegiatan ini : 5 jam/minggu

O. Perkiraan Biaya Pengembangan Buku Ajar
Biaya penyelenggaraan proyek pengembangan buku ajar ini sebesar Rp. 6.450.000,- (enam juta empat ratus lima puluh ribu rupiah) dengan perincian sebagai berikut:

1. Honorarium
a. Seorang peneliti = Rp. 1.500.000,-
2. Alat dan bahan
a. CD Program Linguistics = Rp. 100.000,-
b. Buku dan fotokopi literatur fonologi = Rp. 500.000,-
c. 3 rem kertas @ Rp. 25.000 = Rp. 75.000,-
d. Foto copy lembar angket dan observasi = Rp. 250.000,-
e. CD RW 1 buah = Rp. 300.000,-
f. Cartride Printer = Rp. 350.000,-
g. 10 Tinta Printer @ Rp. 25.000 = Rp. 250.000
h. Flashdisk = Rp. 200.000,-
i. Scanner = Rp. 600.000,-
j. 5 keping CD blank @ Rp. 5000 = Rp. 25.000,-
________________
Jumlah = Rp. 2.650.000,-
3. Lain-lain
a. Konsultasi tim ahli = Rp. 250.000,-
b. Akses internet = Rp. 250.000,-
b. Penyusunan proposal = Rp. 200.000,-
c. Penyusunan laporan kegiatan = Rp. 100.000,-
e. Transportasi dan akomodasi peneliti = Rp.1.000.000,-
f. Seminar proses dan hasil kolegial = Rp.200.000,-
g. Diseminasi hasil = Rp. 300.000,-

Jumlah = Rp. 2.300.000,-
Biaya keseluruhan
a. Upah/honorarium = Rp. 1.500.000,-
b. Alat dan bahan = Rp. 2.650.000,-
c. Lain-lain = Rp. 2.300.000,-
____________________________
Jumlah = Rp. 6.450.000,-


Lampiran-Lampiran
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdur Rahman Ayyub. 1991. Ashwat al-Lughah. Cairo: Maktabat al-Syabab
Adil Khalaf. 1994. Ashwat al-Lughah al-Arabiyyah. Cairo: Maktabat al-Adab
Anis, Ibrahim. 1990. Al—Ashwat al—Lughawy, Cairo: Maktabah Anglo Almisriyyah.
Asrori, Imam. 2002. Pengembangan Buku Ajar Sintaksis Bahasa Arab: Frasa, Klausa dan Kalimat. Malang: Proyek Due-Like Batch III Tahun I.
Hasan Bakilla, et.al. 1983. A Dictionary of Modern Linguistic Terms. Beirut: Maktabat Lubnan.
Hasan Busyri. 1996. Dasar-Dasar Linguistik. Malang: UNISMA Press.
IGN Oka. 1988. Penyusunan Tatabahasa Madura: Fonologi. Proyek Penelitian Bahasa Jawa Timur.
Kamal Ibrahim Badri. 1988. Ilm al-Lughah al-Mubarmaj. Riyadl: Jami’at al-Imam Muhammad ibn al-Su’ud.
Kamal Muhammad Basyar. 1980. Ilm al-Lughah Al-Am: al-Ashwat. Cairo: Dar al-Ma’arif.
Khalil Semann. 2003. Arabic Phonetics. Beirut: Dar al-Fikr
Majdi Wahbah. Mu’jam al-Mushtalahat al-Arabiyyah fi al-Lughah wa al-Adab. Beirut: Maktabat Lubnan.
Muhammad Naja, ibrahim. 1972. Al-Tajwid wal-Ashwat. Cairo: Jami’atul Azhar
Sugiono. 2003. Pedoman Penelitian Bahasa Lisan: Fonetik. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Syukur Ibrahim. 1987. Kapita Selekta: Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya. Malang: IKIP Malang Press
Umar, A. Mukhtar. 1985. Dirasat al-Shaut al-Lughawy. Cairo: Alamul Kutub.
Vacca, Richart T. dan Vacca, Jo Anne L. 1993. Content Area Reading. New York: Harper Collins, College Publishers.

DESKRIPSI MATAKULIAH JURUSAN SASTRA ARAB PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


DESKRIPSI MATAKULIAH
JURUSAN SASTRA ARAB
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

MPK421 Pendidikan Agama Islam, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam. Topik bahasannya meliputi alam kehidupan dan isinya, sifat dan kekuasaan Allah, kitabullah, Sunnah Rasul, pokok-pokok agama Islam, akhlakul karimah, syari’ah, ibadah, pembentukan tingkah laku menurut Islam, ibadah mu’amalah, pengelolaan disiplin ilmu, Islam dan ilmu pengetahuan, Islam dan kehidupan masyarakat.

MPK432 Pendidikan Pancasila, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Pokok bahasannya meliputi nilai, sikap, dan prilaku yang bersumber pada Pancasila, hakikat Pancasila, filsafat Pancasila, nilai-nilai Pancasila, Pendalaman P4, latihan menganalisis masalah kemasyarakatan berdasarkan pendekatan Pancasila, latihan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kasus-kasus kehidupan, sejarah perjuangan bangsa Indonesia, Undang-undang Dasar 1945, Garis-garis Besar Haluan Negara.

MPK433 Pendidikan Kewarganegaraan, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami kewajiban dan haknya sebagai warga negara. Topik pembahasannya meliputi tata pemerintahan, kewajiban dan hak warga negara, kehidupan politik, ekonomi, budaya dan pertahanan nasional.

MKS401 Dasar-dasar Kebudayaan, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami kedudukan manusia sebagai pembentuk kebudayaan dan tahap-tahap perkembangannya. Topik bahasannya meliputi pengertian kebudayaan, perkembangan kebudayaan, manusia sebagai makhluk biososial-kultural; manusia, lingkungan dan kebudayaan, wujud kebudayaan dari berbagai sudut pandang, dan etos kebudayaan.

MKS402 Dasar-dasar Filsafat, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami konsep dasar filsafat dan mampu berpikir ilmiah. Topik bahasannya meliputi hakikat filsafat, pandangan-pandangan dalam filsafat, filsafat ilmu, logika, dan penalaran.

MKS403 Bahasa Indonesia Keilmuan, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat memahami dan terampil menggunakan bahasa Indonesia baku dalam menulis karya ilmiah. Topik bahasannya meliputi konsep dasar karya ilmiah, bahasa Indonesia karya ilmiah, tata tulis karya ilmiah, perencanaan penulisan karya tulis ilmiah, penulisan karya ilmiah, dan penyuntingan karya ilmiah.

MKS404 Bahasa Inggris, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa mampu membaca dan memahami buku teks ilmiah berbahasa Inggris bidang bahasa dan sastra. Topik bahasannya meliputi kosakata, kalimat, paragraf, dan struktur wacana bahasa Inggris bidang bahasa dan sastra.

MKS406 Masyarakat dan Kesenian Indonesia, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami bentuk-bentuk ekspresi kesenian yang hidup dan berkembang dalam mayarakat Indonesia. Topik bahasannya meliputi perkembangan masyarakat Indonesia, jenis dan gaya kesenian masyarakat Indonesia, pengaruh perubahan masyarakat terhadap ekspresi kesenian, perubahan masyarakat dan pengaruhnya terhadap ekspresi kesenian, ekspresi kesenian masyarakat Indonesia berdasarkan tingkat sosial budaya dan letak geografisnya.

SAG401 Pengantar Linguistik, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami teori umum tentang bahasa dan studi kebahasaan sebagai dasar keterampilan melakukan kajian kebahasaan. Topik bahasannya meliputi: pengertian, karakteristik dan fungsi bahasa; pembidangan dalam kajian bahasa; aliran-aliran linguistik Arab dan linguistik Barat; sistematika telaah kebahasaan.

SAG402 Fonologi Bahasa Arab, 2sks, 2 js. Prasyarat: SAG401
Mahasiswa memahami konsep-konsep dasar fonologi dan dapat menerapkannya dalam analisis fonologis bahasa, khususnya bahasa Arab. Topik bahasannya meliputi: (1) bahasa sebagai sistem bunyi, (2) dasar-dasar telaah bunyi bahasa, (3) alat ucap dan produksi bunyi, (4) fonetik dan fonemik, dan (5) problematika bunyi bahasa Arab.

SAG403 Morfosintaksis Bahasa Arab, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG401
Mahasiswa memahami konsep-konsep dasar tata kata dan tata kalimat BA serta dapat menerapkannya dalam analisis kajian kebahasaan, khususnya bahasa Arab. Topik bahasannya meliputi: kaidah pembentukan dan analisis kalimat BA; konsep morfem, morf, dan alomorf; akar, derivasi dan infleksi; hubungan sintagmatik dan paradigmatik; frase, klausa dan kalimat.

SAG404 Sharaf I, 2 sks, 3 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa memahami tata kata dan kaidah pembentukan kata dalam BA, sebagai pendukung kemahiran berbahasa dan dasar keterampilan melakukan kajian kebahasaan. Topik bahasannya meliputi: taqsi:mul kalimat:t al-Arabiyyah, awza:nush sharfi, anwa:'ul af'a:l wal asma:' wal huru:f.

SAG405 Sharaf II, 2 sks, 3 js. Prasyarat: SAG404
Mahasiswa memahami tata kata dan kaidah pembentukan kata dalam BA sebagai pendukung kemahiran berbahasa dan dasar keterampilan melakukan kajian kebahasaan. Topik bahasannya meliputi: tashri:ful af'a:l wal asma:', at-tashghi:r wan nasab, al-I'la:l wal ibda:l, dan ma'a:ni: al-huruf.

SAG406 Nahwu I, 2 sks, 3 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa memahami sistem kalimat, kaidah pembentukan kalimat, dan kaidah I'rab dalam BA sebagai pendukung kemahiran berbahasa dan dasar keterampilan melakukan kajian kebahasaan. Topik bahasannya meliputi: dasar-dasar telaah tata kalimat, jumlah ismiyah, jumlah fi'liyyah, I'rab dan bina:', macam-macam I'rab, mabniya:t min al-asma:' wal af'a:l, dan an-nawasikh.

SAG407 Nahwu II, 2 sks, 3 js. Prasyarat: SAG406
Mahasiswa memahami sistem kalimat, kaidah pembentukan kalimat, dan kaidah I'rab dalam BA sebagai pendukung kemahiran berbahasa dan dasar keterampilan melakukan kajian kebahasaan. Topik bahasannya meliputi: I'ra:b al-af'a:l, manshu:ba:t al asma:', taraki:b ghair isna:di, a'ma:l al-musytaqqa:t, dan bentuk-bentuk kalimat khusus.

SAG 408 Sejarah Sastra Arab, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami sejarah perkembangan kesusastraan Arab sejak masa awal pertumbuhannya sampai dengan masa baru, dengan topik-topik: periodisasi kesusastraan Arab yang meliputi periode pra-Islam, permulaan Islam, umawy, abbasy, masa kemunduran, masa kebangkitan dan masa baru; karakteristik kesusastraan setiap periode dan lingkungan yang mempengaruhinya; tokoh-tokoh sastrawan terkemuka setiap periode dan contoh-contoh karya mereka.

SAG 409 Telaah Puisi Arab, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG 408
Mahasiswa terampil menelaah karya sastra Arab dalam bentuk puisi, baik dari segi bentuk (mabna) maupun isi (ma’na). Karya puisi yang ditelaah terutama dari masa kebangkitan dan masa baru.

SAG 410 Telaah Prosa Arab, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG 408
Mahasiswa terampil menelaah karya sastra Arab dalam bentuk prosa, baik dari segi bentuk (mabna) maupun isi (ma’na). Karya prosa yang ditelaah meliputi cerita pendek, novel, dan artikel kesastraan.

SAG 411 Balaghah 1, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa memahami dan dapat menerapkan sistem retorika bahasa Arab, yang meliputi fashahah, balaghah, kalam khabar, kalam insya`, fashl, washl, dan qashr.

SAG 412, Balaghah 2, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG 411
Mahasiswa memahami dan dapat menerapkan sistem retorika bahasa Arab, yang meliputi tasybih, isti’arah, majaz, kinayah, muhsinat lafzhiyah, dan muhsinat ma’nawiyah.

SAG 413, Geografi Dunia Arab dan Islam, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami peta geografi, politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan negara-negara Arab dan Islam, dan hubungannya dengan dunia internasional.

SAG 414, Sejarah Peradaban Arab dan Islam, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami konsep tentang peradaban Arab dan Islam; perkembangannya di Timur, di Barat, dan di Indonesia; dan sentuhannya dengan negara-negara barat dengan berbagai akibatnya.

SAG 415, Pemahaman Lintas Budaya, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG413, SAG414
Mahasiswa memiliki wawasan tentang sistem nilai budaya Arab dan Islam dan hubungannya dengan sistem nilai budaya Indonesia, adat-istiadat dan tatakrama berbahasa Arab.

SAG416 DAM I , 12 sks 18 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memiliki keterampilan bahasa Arab dasar I yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Topik bahasannya meliputi: perkenalan, keluarga, hobi dan minat, kegiatan sehari-hari, lingkungan belajar, pengalaman dan kesan, peristiwa sosial dan keagamaan.

SAG417 DAM II , 12 sks 18 js. Prasyarat: SAG416
Mahasiswa memiliki keterampilan bahasa Arab dasar II yang meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Topik bahasannya meliputi: lingkungan akademis, piknik/rekreasi, komunikasi dan transportasi, hiburan dan pameran, pusat perbelanjaan, kesehatan.

SAG418 KHAT IMLA’, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG416
Mahasiswa mampu menulis Arab dengan benar, sesuai dengan kaidah imla dan khat. Topik bahasan terdiri atas: hamzatu-l-washl wa-l-qath’, hamzah di tengah kata dan di akhir kata, alif layyinah, penulisan huruf hijaiyah menggunakan khat naskhi, kaidah penulisan huruf yang memiliki keserupaan bentuk, menyambung huruf hijaiyah menggunakan khat naskhi, menulis teks berbahasa Arab menggunakan khat naskhi.

SAG419 Istima’ I, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa mampu menyimak percakapan dan teks-teks berbahasa Arab sederhana dan memahami pesan tersurat atau tersirat yang dikandungnya. Topik bahasannya meliputi: keagamaan, kebahasaan, kesusasteraan, pendidikan, kebudayaan, politik, ekonomi, teknologi

SAG420 Istima’ II, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG419
Mahasiswa mampu menyimak penggunaan bahasa Arab yang alamiah dan otentik dari berita, dialog dalam film, pidato, dan wawancara. Topik bahasannya meliputi: keagamaan, kebahasaan, kesusasteraan, pendidikan, kebudayaan, politik, ekonomi, teknologi



SAG421 Kalam I, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa terampil berbicara dengan orang lain, mengemukakan gagasan, dan menanggapi gagasan lawan bicara menggunakan bahasa Arab mengenai topik dan lingkungan yang dekat dengan dirinya. Topik bahasan terdiri atas: kegiatan di dalam kelas, keluarga dan teman, kegiatan sehari-hari, menu makanan, Rekreasi dan aktivitas waktu senggang.

SAG422 Kalam II, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG421
Mahasiswa terampil berbicara, mengemukakan gagasan, menanggapi gagasan lawan bicara menggunakan bahasa Arab mengenai topik dan lingkungan yang lebih luas. Topik bahasan terdiri atas: dunia pendidikan, perkembangan politik kontemporer, HAM, perkembangan ekonomi kontemporer, peristiwa sosial yang aktual, kebudayaan modern.

SAG423 Khatabah, 2 sks 4 js. Prasyarat: SAG422
Mahasiswa memahami dan mampu menerapkan berbagai konsep, fungsi dan aspek berpidato bahasa Arab. Topik bahasnnya meliputi: Pidato acara-acara resmi, acara tidak resmi, membawa acara.

SAG424 Qiro'ah I, 2 sks, 4 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa terampil membaca tingkat menengah. Topik bahasan meliputi pemahaman detail, ide pokok, harfiah, inferensi dan pemahaman evaluatif.

SAG425 Qiro'ah II, 2 sks, 4 js. Prasyarat: SAG424
Mahasiswa terampil membaca tingkat pralanjut. Topik bahasan meliputi pemahaman detail, ide pokok, harfiah, inferensi dan pemahaman evaluatif.

SAG426 Qiro'ah Muwassa'ah I, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG425
Mahasiswa terampil membaca berbagai teks bahasa Arab dalam bidang keagamaan baik klasik maupun kontemporer. Topik bahasan meliputi masalah akidah, syariah dan akhlak.

SAG427 Qiro'ah Muwassa'ah II, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG426
Mahasiswa terampil membaca berbagai teks bahasa Arab kontemporer yang terdapat dalam surat kabar, majalah dan jurnal ilmiah. Topik bahasan meliputi masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan karya sastra.

SAG428 Kitabah I, 2 sks, 4 js. Prasyarat: SAG417
Mahasiswa memahami konsep, proses dan teknik menulis, serta terampil mengembangkan paragraf. Topik bahasan meliputi menulis paragraf dalam bentuk eksposisi sederhana, narasi, deskripsi, surat dan ucapan.

SAG429 Kitabah II, 2 sks, 4 js. Prasyarat: SAG428
Mahasiswa terampil menulis berbagai karangan jenis kreasi dan imajinasi dengan pemberian contoh-contoh, detail, perbandingan dan kontras, hubungan sebab akibat, dan klasifikasi.

SAG430 Kitabatul Maqalah, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG429
Mahasiswa terampil menulis artikel dan makalah berbahasa Indonesia dan Arab. Topik bahasan meliputi perencanaan penulisan, teknik penulisan draf artikel dan makalah, format dan sistematika, dan praktek penulisan artikel dan makalah.

SAG431 Penerjemahan, 2 sks, 2 js. Prasyarat: SAG425
Mahasiswa memahami hakikat penerjemahan serta terampil menerjemahkan teks dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Topik bahasan meliputi kesepadanan bentuk dan makna serta latihan penerjemahan teks bahasa Arab sederhana.

SAG432 BA Dunia Usaha, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat menggunakan bahasa Arab yang berkaitan dengan bidang dunia usaha. Pokok bahasannya meliputi BA untuk dokumen kerjasama, faktur transaksi, periklanan, surat menyurat, dan pembukuan.

SAG433 BA Media Massa, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat memahami isi berita di media massa berbahasa Arab dan dapat menulis berita, features, dan opini berbahasa Arab. Topik bahasannya meliputi memahami; majalah, surat, dan media massa lainnya; karakteristik berita dan features, penulisan berita dan features.

SAG434 BA TKI dan Haji, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa menguasai bahasa Arab praktis untuk keperluan TKI di Timur Tengah dan calon jamaah haji. Pokok bahasannya meliputi bahasa Arab di rumah tangga, bahasa Arab untuk sopir, bahasa Arab di fasilitas umum, bahasa Arab untuk ritual haji dan do’a-do’a.

SAG435 BA untuk Anak, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami sistem pembelajaran bahasa Arab untuk anak-anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Pokok bahasannya meliputi pemilihan materi, metode pembelajaran, media pembelajaran, permainan dan lagu, penilaian, dan psikologi anak.

SAG436 Kaligrafi, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa terampil menulis teks-teks Arab sesuai dengan kaidah-kaidah khat. Pokok bahasannya meliputi macam-macam khat Arab, kaidah penulisan khat, dan disain grafis kaligrafi.

SAG437 Komputer dan Internet, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa menguasai pengoperasian komputer berbasis program windows Arab dan internet. Topik bahasannya meliputi berbagai fungsi dan menu dalam program windows Arab, microsoft word, microsoft excel, microsof power point, browsing internet, dan emailing.

MDK401 Pengantar Pendidikan, 3 sks, 3 js Prasyarat:-
Mahasiswa memahami hakikat pendidikan. Topik bahasannya meliputi manusia dan perkembangannya, pengertian dan unsur-unsur pendidikan, landasan dan asas-asas pendidikan, serta penerapannya, masyarakat masa depan, lingkungan pendidikan, aliran-aliran pendidikan, permasalahan pendidikan, sistem pendidikan nasional, pendidikan dan pembangunan nasional.

MDK402 Pengembangan Peserta Didik, 3 sks, 3 js Prasyarat:-
Mahasiswa dapat memahami hakikat peserta didik dalam pendidikan. Topik bahasannya meliputi karakteristik dan perbedaan individu peserta didik pada usia sekolah dasar dan menengah, perkembangan psikologi peserta didik, kebutuhan dan tugas-tugas peserta didik, penyesuaian diri peserta didik, dan problema pengembangan peserta didik dan pemecahannya.

MDK403 Belajar dan Pembelajaran, 4 sks, 4 js Prasyarat:-
Mahasiswa memahami belajar dan pembelajaran. Topik bahasannya meliputi hakikat belajar dan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dan implikasinya, dasar-dasar pengembangan kurikulum, motivasi belajar, pendekatan pembelajaran, konsep dasar evaluasi belajar dan pembelajaran, dan problema belajar dan pemecahannya.

SAP438 Metodologi PBA, 3 sks 4 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami metode pembelajaran bahasa Arab dan dapat menggunakannya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pokok bahasannya meliputi: pengertian, perkembangan metode pembelajaran bahasa, macam-macam metode, dan metode pembelajaran keterampilan berbahasa.

SAP439 Media PBA, 2 sks 2 js. Prasyarat: SAP438
Mahasiswa memahami media pembelajaran bahasa Arab dan terampil menggunakannya dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pokok bahasannya meliputi: hakikat media, aspek-aspek media PBA, pembuatan (pengadaan) media dan penggunaannya dalam pembelajaran bahasa Arab, serta laboratorium bahasa.

SAP440 Evaluasi PBA, 2 sks 2 js. Prasyarat: SAP438
Mahasiswa memahami sistem penilaian bahasa Arab dan dapat menyusun alat penilaian bahasa Arab sesuai dengan presudur penilaian yang benar. Pokok bahasannya meliputi: hakikat penilaian, jenis, pendekatan, prosedur dan teknik penilaian, serta penyusunan alat penilaian bahasa Arab.

SAP441 Pengembangan Kurikulum dan Buku Teks, 3 sks 4 js. Prasyarat: SAP440
Mahasiswa memahami kurikulum dan buku teks bahasa Arab serta dapat mengembangkannya dalam proses pembelajaran bahasa Arab di sekolah menengah. Pokok bahasannya meliputi: hakikat kurikulum dan buku teks, analisis isi kurikulum dan buku teks bahasa Arab, pengembangan isi kurikulum dan buku teks, model rancangan pembelajaran, dan penyusunan perencanaan (persiapan) pembelajaran bahasa Arab.

SAP442 Micro Teaching, 2 sks 2 js. Prasyarat: SAP441
Mahasiswa memahami keterampilan dasar mengajar dan dapat menerapkannya secara terpadu dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pokok bahasannya meliputi: pengertian pengajaran mikro, aspek-aspek pengajaran mikro, penyusunan satuan acara dan format penilaian latihan, keterampilan dasar mengajar, dan keterampilan mengajar bahasa Arab secara terpadu.

SAP443 Metodologi Penelitian, 3 sks 4 js. Prasyarat: SAG430
Mahasiswa dapat menyusun rancangan penelitian bahasa/sastra Arab, penerjemahan, dan pembelajarannya, serta menyusun laporan penelitian. Topik bahasannya meliputi: hakikat penelitian, prosedur penelitian, isi dan sistematika laporan penelitian serta artikel penelitian.

PPL490 Praktik Pengalaman Lapangan, 4 sks.
Mahasiswa terampil mengajar dan mengelola pembelajaran bahasa Arab di sekolah menengah. Topik bahasannya meliputi perencanaan, kegiatan belajar-mengajar di kelas, penialaian, dan mengelola kegiatan administrasi akademik di sekolah.

SAP445 Kitabatau Bahtsil Ilmi (Skripsi), 6 sks. Prasyarat: SAP443
Mahaiswa dapat menyusun skripsi dan mempertahankannya di hadapan penguji, serta menulis artikel ilmiah dari hasil penelitian. Topik bahasannya kebahasaan Arab, kesastraan Arab, penerjemahan, dan pengajarannya.

SAP446 Teknik Penerjemahan, 2 sks 2 js. Prasyarat: SAG430
Mahasiswa memahami teori penerjemahan serta terampil menerjemahkan teks dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Topik bahasan meliputi pengertian, proses penerjemahan, dan metode penerjemahan.


SAG447 Gramatika dalam Penerjemahan, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa mendalami pola-pola struktur gramatika bahasa Arab, khususnya yang tidak mempunyai padanan langsung dalam bahasa Indoensia, dan mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Topik bahasannya meliputi: kata, frase dan kalimat yang mampunyai padanan langsung; kata, frase dan kalimat yang tidak mempunyai padanan langsung; bentuk-bentuk khusus.

SAG448 Peristilahan dalam Penerjemahan, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami perihal gramatika dan penerjemahannya. Topik bahasannya meliputi konjungsi, preposisi, kata keterangan, kalimat aktif dan pasif, frase, klausa bahasa Arab dan bahasa Indonesia.

SAG449 Pendalaman Bahasa Indonesia, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa mempunyai kemampuan menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai pendukung kemampuan mereka membuat karya terjemahan. Topik bahasannya meliputi: ejaan dan tanda baca, pemenggalan, transkripsi dan transliterasi, penulisan paragraf, dan daftar pustaka

SAG450 Latihan Penerjemahan, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat menerjemahkan secara tertulis wacana ilmiah populer dan artikel ilmiah dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Topik bahasannya meliputi tema-tema politik, ekonomi, sosial-budaya, kebahasaan, pendidikan, dan lain-lain.

SAG451 Tugas Akhir Penerjemahan, 3 sks 3 js. Prasyarat: -
Mahasiswa dapat menerjemahkan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Topik bahasannya meliputi tema-tema politik, ekonomi, sosial-budaya, kebahasaan, pendidikan, dan lain-lain.

SAG452 Aqidah dan Akhlak, 3 sks 3js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami (1) pengertian tentang pendekatan teologis dalam memahami ajaran Islam dan hazanah pemikiran para filosof muslim; (2) konsep, kedudukan, dan urgensi akhlak dalam Islam, dan (3) penghayatan dan pengamalan akhlak. Topik bahasan meliputi (a) pengertian aqidah, (b) hakikat iman, (c) rukun iman, (d) pemikiran ilmu kalam, (e) konsep, sumber, dan ruang lingkup akhlak dalam Islam, (f) urgensi akhlaq dalam kehidupan, (g) penghayatan dan pengamalan akhlak dalam kehidupan.

SAG453 Fiqh dan Ushul Fiqh, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa kaidah-kaidah fiqhiyah, madzhab-madzhab fiqh, dan karakteristik masing-masing madzhab.

SAG454 Tafsir, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami berbagai pokok bahasan tentang Ulumul Qur’an dan menguasai tafsir beberapa ayat Al-Qur’an. Topik bahasan meliputi: pengertian Ulumul Qur’an, tafsir Al-Qur’an, asbabun nuzul, dan tafsir beberapa ayat tertentu.

SAG455 Hadits, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami berbagai pokok bahasan Ilmu Hadits dan menguasai sejumlah hadits dengan topik-topik tertentu. Topik bahasan meliputi: musthalah hadits, sejarah perkembangan Hadits, pembagian Hadits, takhrij al Hadits, kajian hadits, aliran inkarus sunnah, dan beberapa hadits dengan topik tertentu.

SAG456 Metode PA, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami berbagai metode PAI, relevansi, dan faktor-faktornya. Topik bahasan meliputi: (1) pengertian dan kedudukan metodik dalam dedaktik, (2) pengertian pendidikan dan pengajaran, (3) faktor-faktor pendidikan agama, (4) relevansi metode dan faktor-faktornya, (5) keanekaragaman metode dalam PAI dan cara memilihnya, (6) sistem modul untuk PAI, (7) permainan simulasi untuk PAI, (8) PPSI dalam PAI, (9) evaluasi PAI.

SAG457 Strategi Dakwah, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami konsep-konsep dasar da’wah, sebagai bekal tambahan yang menunjang pencapaian tujuan pendidikan di luar sekolah (pendidikan informal). Topik bahasan meliputi: (1) pengertian da’wah, (2) asas dan strategi da’wah, (3) hukum da’wah dan tujuannya, (4) juru da’wah, (5) materi da’wah, (6) sasaran da’wah, (7) metode da’wah, (8) media dan sarana da’wah, (9) planning da’wah, (10) evaluasi da’wah.

SAG458 Pendalaman Kaidah Khat, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memdalami teori dan teknik penulisan khat Arab dan dapat menerapkannya dalam membuat karya kaligrafi. Topik bahasannya meliputi: prinsip-prinsip belajar kaligrafi, pengenalan alat-alat tulis dan cara pemakaiannya, sikap tubuh ketika menulis, bentuk-bentuk garis dan titik, pengenalan bentuk dan ragam khat Arab, dan seni menghias huruf

SAG459 Khat Naskhi, 3 sks, 4 js. Prasyarat: -
Mahasiswa menguasai teori dan mampu menulis khat naskhi dengan baik dengan menggunakan berbagai macam alat tulis.Topik bahasannya meliputi: karakteristik khat naskhi, goresan pena dalam khat naskhi, huruf-huruf terpisah dan bersambung, contoh-contoh karya seni khat naskhi, tugas akhir

SAG460 Khat non-naskhi, 3 sks, 4 js. Prasyarat: Khath Naskhi
Mahasiswa menguasai teori dan mampu menulis tiga macam khat non-naskhi dengan baik dengan menggunakan berbagai macam alat tulis. Topik bahasannya meliputi: karakteristik khat riq'ie, tsuluts dan diwani; goresan pena dalam khat riq'ie, tsuluts dan diwani; huruf-huruf terpisah dan bersambung, contoh-contoh karya seni khat riq'ie, tsuluts dan diwani; latihan tugas akhir

SAG461 Desain dan Ragam Hias, 3 sks, 4 js. Prasyarat: -
Mahasiswa menguasai teori dan mampu membuat desain dan ragam hias kaligrafi dengan menggunakan berbagai macam bahan dan alat. Topik bahasannya meliputi: pengenalan bentuk dan bahan pembuatan desain, pengenalan bentuk dan ragam hias, teknik pengecatan manual dan air brush, teknik gergaji dan tempel, dan teknik ukir.

SAG462 Kewirausahaan, 2 sks, 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami teori kewirausahaan, dan mampu mengelola wirausaha, utamanya dalam produksi dan pemasaran karya seni kaligrafi. Topik bahasannya meliputi: pengenalan teori kewirausahaan, permodalan, pembukuan, pemasaran, public relation, dan magang wirausaha.

SAG463 Pembelajaran Baca-Tulis Huruf Arab, 2 sks 2 js. Prsyarat: -
Mahasiswa memahami metode pembelajaran baca-tulis huruf Arab dan dapat menerapkannya dalam proses belajar-mengajar. Pokok bahasannya meliuputi: metode membaca huruf Arab, metode menulis huruf Arab, analisis isi buku teks baca-tulis huruf Arab, dan latihan penggunaan metode baca-tulis huruf Arab.

SAG464 Strategi Pembelajaran ALA, 2 sks 2 js. Prasyarat: SAP438
Mahasiswa memahami berbagai strategi pembelajaran bahasa Arab untuk anak (ALA) dan dapat menerapkannya dalam proses belajar mengajar. Pokok bahasannya meliputi: Pengertian strategi, prinsip dasar pemilihan strategi pembelajaran ALA, ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan (QL dan CTL), berbagai strategi dalam pembelajaran ALA, dan latihan penggunaan strategi pembelajaran ALA (strategi komunikatif).

SAG465 Pemilihan Materi ALA, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami prinsip-prinsip pemilihan materi ALA dan dapat menyusun materi sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Pokok bahasannya meliputi: karakteristik perkembangan bahasa anak, prinsip-prinsip penyusunan materi ALA, langkah-langkah penyusunan materi ALA, dan penyusunan materi ALA.

SAG466 Permainan dan Lagu untuk ALA, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami jenis permainan dan lagu, serta dapat menggunakannya dalam pembelajaran ALA. Pokok bahasannya meliputi: pengertian bermain dan lagu dalam pendidikan anak, manfaat permainan dan lagu untuk ALA, prinsip-prinsip penggunaan permainan dan lagu untuk ALA, jenis-jenis permainan dan lagu untuk ALA, penggunaan permainan dan lagu untuk ALA.

SAG467 Pengembangan Media ALA, 3 sks 4 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami media pembelajaran ALA dan dapat mengembangkan, serta menggunakannya dalam proses pembelajaran. Pokok bahasannya meliputi: hakikat media pembelajaran ALA, prinsip-prinsip pemilihan media, jenis-jenis media, pengembangan dan pengadaan media untuk ALA, serta penggunaanya.

SAG468 Psikologi Anak, 2 sks 2 js. Prasyarat: -
Mahasiswa memahami perkembangan jiwa anak beserta keunikannya masing-masing baik dari aspek kognitif, psikomorik maupun aspek afektif sebagai dasar dalam pembelajaran bahasa Arab. Pokok bahasannya meliputi: hakikat perkembangan anak, faktor penentu perkembangan anak, periodisasi perkembangan anak, dan masalah yang dihadapi anak serta pemecahannya.

KKN469 Kuliah Kerja Nyata, 4 sks – js Prasyarat:-
Mahasiswa terampil mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh dalam perkuliahan di dalam masyarakat.